Pendapatan Indosat Turun Jadi Rp 41,1 Triliun, Tapi Ada Sinyal Kebangkitan di Balik Angka itu

Laporan keuangan terbaru dari raksasa telekomunikasi PT Indosat Tbk (ISAT) menyajikan sebuah cerita dengan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, angka utama menunjukkan adanya tekanan: total pendapatan selama sembilan bulan pertama tahun 2025 tercatat turun tipis 1,6% menjadi Rp 41,16 triliun. Laba bersih perusahaan juga ikut terkoreksi sebesar 7,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, terutama pada kinerja kuartal ketiga (Q3), muncul sebuah narasi yang jauh lebih optimistis. Perusahaan menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat dengan pendapatan yang tumbuh 3,8% dan laba bersih yang meroket hingga 22,2% hanya dalam tiga bulan. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di balik angka-angka ini? Mari kita bedah lebih dalam.

Gambaran Besar: Turun Tahunan, Bangkit Kuartalan

Jika dilihat dari perbandingan tahun-ke-tahun (Year-on-Year/YoY), kinerja Indosat memang menghadapi tantangan. Total pendapatan hingga akhir September 2025 mencapai Rp 41,16 triliun, sedikit lebih rendah dari Rp 41,81 triliun pada periode yang sama tahun 2024.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh kontraksi pada segmen seluler—bisnis inti yang menyumbang mayoritas pendapatan—yang turun 1,9%. Persaingan industri yang ketat dan dinamika daya beli masyarakat menjadi beberapa faktor penyebabnya. Akibatnya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan juga ikut menyusut menjadi Rp 3,59 triliun dari sebelumnya Rp 3,87 triliun.

Namun, cerita berubah drastis saat kita fokus pada kinerja kuartal ketiga saja (Juli-September 2025). Pada periode ini, Indosat seolah menemukan momentumnya kembali. Pendapatan kuartalan naik signifikan 3,8%, dan yang lebih mengejutkan, laba bersihnya melonjak 22,2% dibandingkan kuartal sebelumnya. Pemulihan ini menandakan bahwa strategi yang diterapkan perusahaan, termasuk penyesuaian harga, mulai membuahkan hasil positif setelah melewati periode musiman pasca-Lebaran yang biasanya lebih lemah.

Bukan Sekadar Jumlah Pelanggan, Tapi Kualitas

Salah satu kunci untuk memahami strategi Indosat terletak pada metrik yang disebut Average Revenue Per User (ARPU), atau pendapatan rata-rata per pengguna. Angka ini menunjukkan berapa banyak uang yang dihasilkan dari setiap pelanggan.

Menariknya, meskipun jumlah total pelanggan Indosat sedikit turun dari 99 juta menjadi 95 juta secara tahunan, ARPU-nya justru tumbuh sehat sebesar 4,0% menjadi Rp 39 ribu. Pada kuartal ketiga, ARPU bahkan mencapai Rp 40 ribu. Ini adalah sinyal kuat bahwa Indosat berhasil menerapkan strategi “nilai di atas volume” (value over volume). Perusahaan secara sadar merampingkan basis pelanggannya, fokus pada pengguna yang lebih loyal dan bernilai tinggi, sehingga menghasilkan pendapatan yang lebih stabil per pelanggan.

Di saat yang sama, konsumsi data terus meroket. Trafik data selama sembilan bulan naik 6,1% YoY, menunjukkan bahwa kebutuhan digital masyarakat terus meningkat. Tantangannya kini adalah bagaimana mengubah pertumbuhan trafik data yang masif ini menjadi pertumbuhan pendapatan yang sepadan, dan kenaikan ARPU adalah salah satu jawaban strategisnya.

Visi Jangka Panjang: Dari Telco Menjadi ‘TechCo’ Berbasis AI

Manajemen Indosat tidak hanya fokus pada tantangan jangka pendek. Mereka secara aktif mentransformasi perusahaan dari operator telekomunikasi tradisional menjadi perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI-Native TechCo).

President Director and CEO Indosat, Vikram Sinha, menyatakan bahwa kinerja ini mencerminkan fokus perusahaan pada keunggulan operasional, alokasi modal yang strategis, dan pemanfaatan transformasi berbasis AI. “Kami melanjutkan fokus, menghadirkan pengalaman yang mengesankan kepada seluruh pemangku kepentingan serta memastikan kekuatan kinerja finansial seraya menavigasi lanskap telekomunikasi yang terus berkembang,” ujarnya.

Langkah konkret dari visi ini adalah rencana peluncuran layanan GPU-as-a-Service, sebuah layanan komputasi AI canggih yang didukung oleh teknologi dari NVIDIA. Inisiatif ini menunjukkan ambisi Indosat untuk menciptakan sumber pendapatan baru di luar bisnis seluler konvensional dan menangkap peluang di era ekonomi digital dan AI.

Apa Artinya Ini Bagi Masa Depan?

Laporan keuangan Indosat hingga kuartal ketiga 2025 melukiskan gambaran sebuah perusahaan yang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, mereka menghadapi tekanan dari bisnis warisan di tengah persaingan ketat. Di sisi lain, sinyal pemulihan yang kuat di kuartal ketiga, pertumbuhan ARPU yang sehat, dan visi transformasi yang jelas memberikan harapan untuk masa depan.

Para analis pasar merespons dengan optimisme yang hati-hati. Sebagian besar merekomendasikan “Beli” atau “Tahan” untuk saham ISAT, melihat potensi dari bisnis AI dan valuasi yang menarik, namun tetap waspada terhadap risiko persaingan tarif dan kebutuhan belanja modal yang tinggi.

Pada akhirnya, kinerja Indosat menunjukkan resiliensi. Penurunan pendapatan tahunan mungkin menjadi berita utama, tetapi kemampuan untuk bangkit di tingkat kuartalan dan strategi jangka panjang yang solid menunjukkan bahwa perusahaan ini sedang beradaptasi dan berevolusi untuk tetap relevan di masa depan.

Fenomena Kelelahan Mental Akibat Scrolling Media Sosial: Penjelasan Psikologis dan DampaknyaSehatDiri

Fenomena Kelelahan Mental Akibat Scrolling Media Sosial: Penjelasan Psikologis dan Dampaknya

Keunal AdminJanuary 9, 2026
YouTube Manfaatkan AI untuk “Sulap” Video Lawas “Burik” Jadi Konten HD Berkualitas TinggiBeritaTeknologi

YouTube Manfaatkan AI untuk “Sulap” Video Lawas “Burik” Jadi Konten HD Berkualitas Tinggi

Keunal AdminNovember 6, 2025
Korupsi Kuota Haji 2024 Gagalkan 8.400 JamaahBerita

Korupsi Kuota Haji 2024 Gagalkan 8.400 Jamaah

Keunal AdminNovember 3, 2025