Bahaya Kurang Tidur Mengintai Kesehatan: Dari Penurunan Kognitif Hingga Risiko Penyakit Kronis!

Banyak masyarakat Indonesia menganggap kurang tidur sebagai hal yang lumrah akibat tuntutan pekerjaan atau gaya hidup. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa kondisi ini telah menjadi masalah kesehatan yang signifikan. Kurang tidur bukan sekadar menyebabkan kantuk di siang hari, tetapi telah terbukti secara ilmiah berkontribusi pada penurunan fungsi otak, pelemahan sistem imun, dan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis yang serius.

Menurut data terbaru dari GoodStats per November 2025, kesadaran akan tidur berkualitas di Indonesia masih rendah. Tercatat, hanya 48% orang Indonesia yang tidur selama tujuh jam atau lebih setiap malam, sesuai dengan durasi ideal. Lebih mengkhawatirkan lagi, hampir 24% responden mengaku hanya tidur lima jam atau kurang. Padahal, para ahli kesehatan secara konsisten merekomendasikan durasi tidur 7-9 jam per malam untuk orang dewasa agar tubuh dapat berfungsi secara optimal.

Dampak Jangka Pendek: Penurunan Kognisi dan ‘Brain Fog’

Dampak paling cepat dirasakan dari kekurangan tidur adalah pada fungsi kognitif. Saat tubuh tidak mendapatkan istirahat yang cukup, otak tidak dapat menyelesaikan siklus pentingnya, termasuk proses “pembuangan limbah” atau pembersihan toksin yang menumpuk di otak selama beraktivitas.

Laporan dari Kementerian Kesehatan RI pada Oktober 2025 menyoroti fenomena yang disebut “pikiran berkabut” (brain fog) sebagai akibat langsung dari kurang tidur. Kondisi ini membuat seseorang sulit berkonsentrasi, lambat dalam mengambil keputusan, dan mengalami penurunan daya ingat.

Studi lain yang dirilis media ANTARA pada akhir Oktober 2025 menguatkan temuan ini. Kurang tidur yang terfragmentasi mengganggu kemampuan otak untuk memproses dan menyimpan informasi baru. Dalam beberapa kasus, refleks tubuh yang melambat akibat kurang tidur disamakan dengan kondisi seseorang yang berada di bawah pengaruh alkohol, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan saat berkendara atau bekerja.

Ancaman Jangka Panjang: Penyakit Kronis dan Masalah Jantung

Jika terjadi secara terus-menerus (kronis), kurang tidur akan memberi tekanan berat pada berbagai sistem organ tubuh. Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH), yang dikutip oleh media Kontan, telah mengaitkan insomnia kronis dengan peningkatan risiko sejumlah penyakit serius.

Tubuh yang kurang istirahat akan meningkatkan produksi hormon stres (kortisol) dan menaikkan tekanan darah. Kondisi ini memaksa jantung bekerja lebih keras. Sejumlah penelitian, termasuk yang dirilis ANTARA, mengkonfirmasi bahwa kurang tidur memberikan “tekanan pada jantung” dan secara signifikan meningkatkan risiko jangka panjang terhadap:

  • Penyakit Jantung dan Stroke: Tekanan darah tinggi yang konstan akibat kurang tidur merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.
  • Diabetes Tipe 2: Kurang tidur mengganggu kemampuan tubuh mengatur gula darah dan sensitivitas insulin.
  • Obesitas: Tidur yang tidak cukup mengacaukan hormon pengatur nafsu makan (ghrelin dan leptin), yang menyebabkan peningkatan rasa lapar dan penurunan metabolisme.

Melemahnya Sistem Imun dan Gangguan Kesehatan Mental

Kurang tidur juga berdampak langsung pada kemampuan tubuh melawan infeksi. Puskesmas Arjowinangun, bagian dari jaringan Kemenkes, menjelaskan pada Januari 2025 bahwa saat tidur, tubuh memproduksi sitokin, yaitu senyawa protein yang penting untuk melawan bakteri dan virus.

Ketika seseorang kurang tidur, produksi sitokin akan berkurang drastis, membuat sistem kekebalan tubuh melemah dan lebih rentan terserang penyakit. Sebuah studi dari Dasman Diabetes Institute bahkan menemukan bahwa hanya satu malam tanpa tidur dapat membuat sistem imun berperilaku seperti tubuh yang mengalami obesitas, yakni lebih rentan terhadap peradangan.

Selain fisik, kesehatan mental juga terancam. Kurang tidur dan gangguan kecemasan seringkali berjalan beriringan. Insomnia dapat memperburuk gejala kecemasan yang sudah ada, atau bahkan memicu munculnya gangguan tersebut. Hubungan erat juga ditemukan antara kurang tidur berkepanjangan dengan peningkatan risiko depresi.

Memprioritaskan Tidur Sebagai Investasi Kesehatan

Para ahli kesehatan menegaskan bahwa tidur bukanlah aktivitas pasif, melainkan sebuah proses vital untuk pembaruan sel dan pemulihan fungsi otak. Mengabaikan kebutuhan dasar ini sama dengan mengabaikan kesehatan secara keseluruhan.

Rekomendasi utama dari berbagai lembaga kesehatan, termasuk Kemenkes RI dan RRI yang merilis artikel pada awal November 2025, adalah menjaga pola tidur yang sehat dengan durasi 7–9 jam setiap malam untuk orang dewasa.

Untuk mencapai kualitas tidur yang ideal, para ahli menyarankan beberapa langkah praktis, seperti disiplin pada jam tidur yang teratur, menghindari penggunaan gawai setidaknya satu jam sebelum tidur, serta menjaga suasana kamar tetap gelap dan tenang. Memprioritaskan tidur yang cukup dan berkualitas merupakan investasi esensial untuk menjaga kesehatan kognitif, fisik, dan mental dalam jangka panjang.

Kudeta di Depan Mata! Persib Bandung Siap Ambil Alih Puncak Klasemen dari Borneo FCBeritaOlahraga

Kudeta di Depan Mata! Persib Bandung Siap Ambil Alih Puncak Klasemen dari Borneo FC

Keunal AdminDecember 25, 2025
Waspada! Segera Hapus Jejak Digital Anda Sebelum Menyesal, Begini CaranyaTeknologi

Waspada! Segera Hapus Jejak Digital Anda Sebelum Menyesal, Begini Caranya

Keunal AdminOctober 28, 2025
Indonesia Resmi Blokir Grok Elon Musk: Jadi Negara Pertama di Dunia yang Tindak Tegas Deepfake AIBeritaTeknologi

Indonesia Resmi Blokir Grok Elon Musk: Jadi Negara Pertama di Dunia yang Tindak Tegas Deepfake AI

Muhamad JuwandiJanuary 12, 2026