
Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, sering kali menyerang tanpa peringatan dini yang jelas atau silent killer. Fenomena ini semakin mengkhawatirkan dengan data terbaru yang menunjukkan lonjakan kasus drastis di tahun 2024 hingga 2025, menyerang tidak hanya kelompok lanjut usia, tetapi juga usia produktif.
Banyak kasus kematian mendadak akibat serangan jantung terjadi karena penderita mengabaikan sinyal-sinyal halus yang diberikan tubuh. Gejala awal sering kali disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau masuk angin, padahal tubuh sedang memberikan indikasi penurunan fungsi jantung yang krusial. Memahami ciri fisik jantung yang tidak sehat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mencegah fatalitas.
1. Nyeri atau Ketidaknyamanan pada Dada (Angina)
Ciri paling umum namun sering disalahpahami adalah nyeri dada. Menurut laporan medis terbaru yang dirilis awal Desember 2025, sensasi ini tidak selalu berupa nyeri tajam yang menusuk. Banyak pasien justru melaporkan sensasi seperti dada terasa “penuh”, tertekan benda berat, atau seperti diremas. Rasa tidak nyaman ini biasanya muncul di tengah dada dan dapat berlangsung selama beberapa menit, hilang timbul, terutama setelah aktivitas fisik atau saat mengalami stres emosional.
2. Kelelahan Ekstrem Tanpa Sebab Jelas
Merasa lelah setelah berolahraga adalah hal wajar. Namun, kelelahan ekstrem yang muncul tiba-tiba saat melakukan aktivitas ringan—seperti berjalan ke kamar mandi atau menaiki sedikit anak tangga—adalah tanda bahaya. Gejala ini mengindikasikan jantung tidak mampu memompa darah secukupnya untuk memenuhi kebutuhan energi tubuh. Kondisi ini dilaporkan lebih sering dialami oleh wanita sebagai gejala awal serangan jantung dibandingkan pria.
3. Sesak Napas (Dyspnea)
Sesak napas sering kali menyertai nyeri dada, namun bisa juga terjadi secara terpisah. Jika Anda merasa terengah-engah seolah baru saja berlari maraton padahal hanya sedang duduk atau berbaring, ini adalah indikasi kuat adanya masalah pada fungsi pompa jantung atau penumpukan cairan di paru-paru (edema paru) akibat gagal jantung.
4. Pembengkakan pada Kaki dan Pergelangan Kaki (Edema)
Jantung yang tidak memompa darah secara efektif menyebabkan aliran darah melambat dan menumpuk di pembuluh darah balik (vena). Akibat gaya gravitasi, cairan ini sering kali menumpuk di bagian tubuh paling bawah, menyebabkan pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau tungkai. Pembengkakan ini biasanya meninggalkan lekukan jika ditekan (pitting edema) dan merupakan tanda klasik gagal jantung yang tidak boleh disepelekan.
5. Detak Jantung Tidak Teratur (Aritmia)
Merasakan jantung berdebar kencang, berdetak tidak beraturan, atau “melompat” sesekali memang bisa disebabkan oleh kafein atau kecemasan. Namun, jika kondisi ini berlangsung sering dan disertai rasa pusing atau lemas, ini bisa menandakan fibrilasi atrium atau gangguan irama jantung lainnya. Aritmia yang tidak ditangani dapat memicu pembentukan gumpalan darah yang berisiko menyebabkan stroke.
6. Pusing dan Sakit Kepala Berlebih
Pusing mendadak, sensasi ruangan berputar, atau rasa ingin pingsan bisa terjadi karena penurunan tekanan darah secara drastis atau jantung yang gagal memompa cukup darah ke otak. Jika gejala ini muncul bersamaan dengan sesak napas atau keringat dingin, segera cari pertolongan medis karena bisa menjadi indikator serangan jantung atau gangguan katup jantung.
7. Gangguan Pencernaan dan Mual
Gejala ini sering kali mengecoh karena mirip dengan gangguan asam lambung (GERD) atau masuk angin. Rasa mual, nyeri ulu hati, atau perut terasa kembung yang tidak kunjung membaik dengan obat maag biasa bisa menjadi tanda serangan jantung, terutama pada wanita dan lansia. Hal ini disebabkan oleh iritasi pada saraf diafragma yang letaknya berdekatan dengan jantung bagian bawah.
Lonjakan Kasus dan Beban Kesehatan Nasional
Urgensi untuk mengenali gejala ini didukung oleh data statistik yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan, klaim biaya untuk penyakit katastropik, khususnya jantung, terus meningkat tajam. Pada tahun 2024 saja, klaim pembiayaan penyakit jantung tercatat mencapai angka Rp 19 triliun dengan lebih dari 22,5 juta kasus. Angka ini naik signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menandakan bahwa masalah kesehatan jantung di Indonesia semakin meluas.
Selain beban ekonomi, dampak sosialnya pun besar karena penyakit ini merenggut produktivitas masyarakat. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Ade Meidian Ambari, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat.
“Jangan abaikan gejala nyeri dada, sesak napas, atau kaki bengkak. Deteksi dini sangat penting. Masalah ini harus kita hadapi bersama karena angka kematian akibat penyakit jantung masih sangat tinggi,” ungkap dr. Ade Meidian Ambari dalam pernyataan resminya terkait situasi kesehatan jantung nasional.
Pentingnya Langkah Preventif dan Deteksi Dini
Kondisi jantung yang tidak sehat bukanlah vonis akhir jika dideteksi lebih awal. Munculnya gejala-gejala di atas adalah alarm tubuh yang meminta perhatian medis segera. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan self-diagnosis berlebihan, melainkan segera melakukan pemeriksaan rekam jantung (EKG) atau treadmill test di fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami satu atau lebih dari gejala tersebut.
Langkah selanjutnya bagi pemerintah dan masyarakat adalah memperkuat upaya preventif melalui gaya hidup sehat dan pemanfaatan teknologi skrining kesehatan yang kini semakin digencarkan oleh Kementerian Kesehatan. Kesadaran diri adalah kunci utama untuk menekan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular di tahun-tahun mendatang.


