
Bogor – Dominasi perusahaan teknologi Amerika Serikat seperti Google dan OpenAI kembali mendapatkan tantangan serius dari China. DeepSeek, perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang berbasis di Hangzhou, baru saja merilis pembaruan model terbarunya (DeepSeek-V3.2) pada pertengahan Desember 2025. Peluncuran ini segera mengguncang pasar teknologi global karena menawarkan kemampuan yang setara dengan model termahal milik Google (Gemini) dan OpenAI (GPT-5), namun dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah.
Peristiwa ini menjadi sorotan utama karena membuktikan bahwa pembatasan ekspor chip canggih oleh Amerika Serikat tidak sepenuhnya berhasil menghambat inovasi teknologi China. Dengan efisiensi algoritma yang ekstrem, DeepSeek mampu menghasilkan model berkinerja tinggi tanpa bergantung sepenuhnya pada infrastruktur perangkat keras paling mutakhir yang dikuasai oleh perusahaan Amerika. Fenomena ini memicu perdebatan luas mengenai efektivitas strategi teknologi Amerika Serikat dan dampaknya terhadap pasar saham global.
Kronologi Peluncuran dan Spesifikasi Teknis
Berdasarkan rilis teknis yang dipublikasikan pada minggu kedua Desember 2025, DeepSeek memperkenalkan varian terbaru dari model bahasa besar (LLM) mereka. Model ini bersifat open-source atau terbuka untuk umum, yang membedakannya dari pendekatan tertutup yang dilakukan oleh Google dan OpenAI. Dalam laporan teknisnya, DeepSeek mengklaim telah melakukan optimasi arsitektur yang memungkinkan model ini berjalan dengan kecepatan inferensi yang lebih tinggi namun memangkas kebutuhan memori secara signifikan.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan versi sebelumnya (DeepSeek-V3) yang dirilis pada akhir 2024. Saat itu, DeepSeek sudah mengejutkan dunia dengan pendekatan Mixture-of-Experts (MoE) yang memungkinkan penghematan daya komputasi. Pada versi terbaru di Desember 2025 ini, mereka memperkenalkan fitur caching tingkat lanjut yang semakin memperlebar jarak efisiensi antara model China dan model Barat.
Data Efisiensi Biaya yang Mengguncang Industri
Poin paling krusial yang membuat “Amerika kalah” dalam konteks persaingan ini adalah data biaya pengembangan dan harga operasional. Berikut adalah rincian data yang menjadi sorotan analis teknologi:
- Biaya Pelatihan: DeepSeek melaporkan bahwa biaya pelatihan untuk model fondasi mereka hanya berkisar di angka US$ 5,6 juta (sekitar Rp 88 miliar). Angka ini sangat kecil jika dibandingkan dengan biaya pelatihan model milik Google atau OpenAI yang dilaporkan menelan biaya lebih dari US$ 100 juta (Rp 1,5 triliun).
- Harga Layanan (API): Harga token (satuan data untuk AI) yang ditawarkan DeepSeek sekitar 95% lebih murah dibandingkan GPT-5 atau Gemini 3 Pro.
- Kinerja: Meski biayanya sepersepuluh dari pesaing, skor benchmark DeepSeek pada tes matematika (AIME 2025) dan pemrograman (Codeforces) tercatat menyamai, bahkan dalam beberapa kategori mengungguli, model buatan Amerika.
Pernyataan Resmi dan Pandangan Ahli
Dalam dokumen teknisnya, tim pengembang DeepSeek menekankan filosofi mereka pada efisiensi perangkat lunak di atas kekuatan perangkat keras.
“Fokus kami bukan pada penambahan jumlah chip secara masif, melainkan pada inovasi arsitektur yang memungkinkan model belajar lebih cepat dengan sumber daya yang terbatas. Ini adalah bukti bahwa open-source dapat mempercepat evolusi AI bagi semua orang,” tulis perwakilan DeepSeek dalam laporan rilis mereka.
Sementara itu, analis pasar teknologi global menyoroti dampak jangka panjang dari fenomena ini. Sebagaimana dikutip dari analisis pergerakan pasar baru-baru ini, investor mulai mempertanyakan narasi bahwa “semakin banyak belanja infrastruktur, semakin baik hasilnya.” Keberhasilan DeepSeek membuktikan bahwa perusahaan dengan anggaran terbatas pun bisa menyaingi perusahaan bernilai triliunan dolar.
Dampak Langsung pada Sektor Pasar Saham
Reaksi pasar terhadap kebangkitan DeepSeek ini terasa langsung di lantai bursa Wall Street. Saham perusahaan perangkat keras utama seperti Nvidia—yang selama ini menjadi tulang punggung infrastruktur AI Amerika—mengalami koreksi tajam.
Kepanikan investor dipicu oleh kekhawatiran bahwa jika model AI bisa menjadi sangat efisien seperti DeepSeek, maka permintaan terhadap chip AI mahal akan menurun drastis di masa depan. Indeks saham teknologi di Amerika Serikat sempat mencatatkan penurunan signifikan sesaat setelah laporan perbandingan kinerja DeepSeek dan Gemini beredar luas di publik. Bagi masyarakat umum dan pengembang aplikasi di Indonesia, kehadiran DeepSeek memberikan alternatif murah untuk membangun aplikasi berbasis kecerdasan buatan tanpa harus membayar biaya langganan mahal ke penyedia layanan dari Amerika.
Perang Chip dan Kemandirian Teknologi
Peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dari konteks perang dagang teknologi antara Amerika Serikat dan China. Sejak beberapa tahun terakhir, AS telah melarang ekspor chip canggih (seperti Nvidia H100) ke China dengan tujuan menghambat kemajuan militer dan teknologi AI negara tersebut.
Namun, DeepSeek justru menggunakan chip yang lebih tua dan legal (seperti H800) dan menggabungkannya dengan teknik pemrograman tingkat tinggi. Keberhasilan ini seolah menjadi “serangan balik” yang menunjukkan bahwa pembatasan perangkat keras bisa diakali dengan kecerdasan perangkat lunak.
Prospek Persaingan Masa Depan
Peluncuran DeepSeek di penghujung tahun 2025 ini menandai babak baru dalam demokratisasi kecerdasan buatan. Dominasi tunggal perusahaan teknologi Amerika Serikat kini telah berakhir, digantikan oleh persaingan multipolar yang lebih ketat. Ke depannya, Google dan OpenAI diprediksi harus mengubah strategi harga mereka secara drastis untuk tetap kompetitif, atau mereka berisiko kehilangan pangsa pasar pengembang yang mulai beralih ke solusi yang lebih hemat biaya dan terbuka.


