
Bogor – Persib Bandung menutup akhir tahun 2025 dengan berada di puncak klasemen Super League 2025/2026. Posisi tersebut diraih setelah Persib memenangkan laga tunda melawan PSM Makassar dengan skor 1–0 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Hasil ini membuat Persib mengoleksi 34 poin dan unggul atas pesaing terdekatnya, Borneo FC, berdasarkan rekor pertemuan langsung.
Capaian tersebut memicu perbincangan luas di kalangan publik sepak bola nasional. Sebagian pihak menilai dominasi Persib berpotensi membuat kompetisi kehilangan daya saing, sementara lainnya melihat persaingan papan atas masih terbuka dan kompetitif.
Kronologi Persib Naik ke Puncak Klasemen
Persib Bandung memastikan posisi puncak klasemen setelah mengamankan tiga poin penuh dari laga tunda pekan kedelapan Super League. Kemenangan tipis atas PSM Makassar menjadi penentu pergeseran posisi klasemen, mengingat sebelum pertandingan tersebut Persib dan Borneo FC memiliki jarak poin yang sangat tipis.
Dengan tambahan tiga poin, Persib menyamai perolehan poin Borneo FC, namun berhak berada di peringkat pertama karena unggul dalam rekor head to head. Hasil ini sekaligus menjadi penutup positif bagi Persib sebelum kompetisi memasuki fase lanjutan putaran kedua.
Data dan Statistik Super League Musim 2025/2026
Super League 2025/2026 merupakan nama baru untuk kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai Liga 1. Perubahan nama ini merupakan bagian dari kebijakan rebranding kompetisi yang dilakukan oleh operator liga dan disepakati oleh klub peserta.
Hingga akhir Desember 2025, papan atas klasemen Super League menunjukkan persaingan yang relatif ketat. Persib Bandung dan Borneo FC sama-sama mengoleksi 34 poin, disusul oleh beberapa klub lain dengan selisih poin yang tidak terlalu jauh. Kondisi ini menunjukkan bahwa perebutan gelar juara masih sangat terbuka.
Tanggapan Pihak Terkait
Dari kubu klub pesaing, sejumlah pelatih dan ofisial menilai posisi Persib di puncak klasemen belum mencerminkan hasil akhir kompetisi. Persija Jakarta, salah satu rival Persib, menegaskan fokus mereka tetap pada konsistensi permainan dan pengumpulan poin di sisa pertandingan.
Sementara itu, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari PSSI maupun operator liga terkait anggapan bahwa Super League berpotensi menjadi kompetisi satu klub. Otoritas sepak bola nasional menegaskan bahwa format dan regulasi kompetisi masih berjalan normal sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan sejak awal musim.
Isu Kompetisi Satu Klub dan Realitas Liga
Wacana bahwa Liga Indonesia berpotensi menjadi kompetisi yang didominasi satu klub lebih banyak berkembang sebagai opini di media sosial. Tidak terdapat regulasi resmi atau kebijakan struktural yang mengarah pada pembatasan persaingan atau keistimewaan bagi klub tertentu.
Sepanjang sejarah sepak bola Indonesia, dominasi klub tertentu dalam periode tertentu merupakan hal yang wajar. Namun, dinamika klasemen Super League musim ini menunjukkan masih adanya persaingan ketat, khususnya di papan atas, sehingga klaim kompetisi satu klub belum memiliki dasar faktual yang kuat.
Dampak bagi Suporter dan Publik
Keberhasilan Persib memimpin klasemen disambut positif oleh Bobotoh sebagai pendukung setia klub. Antusiasme terhadap pertandingan Persib meningkat, baik di stadion maupun di ruang digital. Di sisi lain, suporter klub lain menaruh harapan agar tim kesayangannya mampu memberikan perlawanan dan menjaga kompetisi tetap menarik.
Bagi publik secara umum, persaingan di papan atas Super League tetap menjadi daya tarik utama kompetisi. Posisi klasemen yang masih berpotensi berubah memberikan alasan bagi penonton untuk terus mengikuti perkembangan liga.
Arah Kompetisi ke Depan
Dengan kompetisi yang masih menyisakan banyak pertandingan, posisi Persib di puncak klasemen belum bersifat final. Konsistensi performa, kedalaman skuad, serta faktor cedera akan sangat menentukan perjalanan setiap klub di putaran kedua.
Situasi ini menunjukkan bahwa Super League 2025/2026 masih berada dalam jalur kompetisi yang sehat. Dominasi sementara Persib belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Liga Indonesia berubah menjadi kompetisi satu klub, mengingat peluang klub lain untuk mengejar masih terbuka lebar.


