
BOGOR – Abad ketujuh Masehi menjadi periode krusial dalam sejarah peradaban manusia yang menyaksikan kebangkitan dua kekuatan besar dunia. Di Semenanjung Jazirah Arab, agama Islam lahir dan mulai berkembang pesat di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW pada rentang tahun 570 hingga 632 Masehi. Di saat yang bersamaan, daratan Tiongkok tengah memasuki era pencerahan dan keemasan di bawah kendali Kekaisaran Dinasti Tang.
Stabilitas politik yang matang serta kemajuan teknologi yang pesat pada masa itu menjadikan Tiongkok sebagai episentrum peradaban dunia Timur. Reputasi mentereng mengenai kemajuan Tiongkok ini pada akhirnya melahirkan sebuah ungkapan yang sangat lekat di telinga umat Muslim, yakni “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”
Ungkapan tersebut telah hidup selama berabad-abad dan sering kali diyakini oleh masyarakat awam sebagai sabda resmi dari Nabi Muhammad SAW. Namun, kajian historis yang mendalam dan analisis ilmu hadis dari para pakar menunjukkan fakta yang berbeda mengenai sejarah hubungan dunia Islam awal dengan Tiongkok dan keabsahan klaim pepatah tersebut.
Transisi Kekuasaan dan Lahirnya Dinasti Tang
Kehebatan Tiongkok pada era kenabian tidak muncul secara instan, melainkan dibangun di atas fondasi penyatuan wilayah oleh Dinasti Sui. Setelah melewati periode perang saudara dan perpecahan politik yang panjang, Dinasti Sui berhasil menyatukan daratan Tiongkok dan memulihkan roda pemerintahan pada tahun 581 Masehi.
Meskipun masa kekuasaannya relatif singkat, Dinasti Sui sukses meletakkan dasar birokrasi, penataan pajak, dan infrastruktur berskala besar. Fondasi tata negara inilah yang kemudian diambil alih dan disempurnakan oleh Dinasti Tang yang resmi didirikan pada tahun 618 Masehi. Periode awal Dinasti Tang ini bertepatan langsung dengan fase penting penyebaran agama Islam oleh Nabi Muhammad SAW.
Di bawah kepemimpinan para kaisar Dinasti Tang, Tiongkok menjelma menjadi negara yang sangat kosmopolitan. Luas wilayah kekuasaan mereka membengkak hingga mencapai 5,4 juta kilometer persegi dengan populasi yang menyentuh angka 50 juta jiwa. Keamanan teritorial yang terjamin oleh militer kekaisaran menjadikan jalur-jalur perdagangan internasional beroperasi maksimal dan menarik minat para saudagar dari berbagai penjuru dunia.
Lompatan Inovasi Pencetak Sejarah Peradaban
Reputasi Tiongkok sebagai negara tujuan utama untuk menuntut ilmu menjadi sangat beralasan jika melihat pencapaian mereka di bidang teknologi dan sains. Salah satu penemuan paling revolusioner dari Dinasti Tang pada masa itu adalah pengembangan teknologi percetakan massal menggunakan metode blok kayu.
Metode percetakan ini memungkinkan teks-teks peraturan pemerintah, literatur klasik, hingga buku panduan pertanian dicetak dan disebarluaskan dengan cepat. Inovasi ini secara drastis menurunkan harga buku dan membuka akses pendidikan bagi masyarakat kelas bawah. Kemajuan ini semakin sempurna dengan kemampuan Tiongkok memproduksi kertas berbahan serat tumbuhan yang murah dan ringan sebagai pengganti bambu atau kain sutra.
Di samping literasi, ilmuwan Tiongkok mencetak prestasi luar biasa di bidang astronomi dan ilmu kedokteran. Para pakar astronomi kerajaan mampu memetakan pergerakan bintang dan menyusun sistem kalender agrikultur yang sangat presisi guna mengamankan ketahanan pangan nasional. Sementara itu, para tabib berhasil memetakan titik meridian tubuh untuk terapi akupunktur dan menciptakan metode pengobatan holistik yang terstandardisasi.
Diplomasi Lintas Benua di Bawah Khulafaur Rasyidin
Konektivitas antara wilayah peradaban Tiongkok dengan Semenanjung Arabia dijembatani oleh para pedagang yang melintasi Jalur Sutra dan rute maritim Samudra Hindia. Banyak sahabat Nabi Muhammad SAW, seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, memiliki latar belakang sebagai saudagar ulung yang mengendalikan jaringan perniagaan lintas negara.
Kapasitas ekonomi yang kuat inilah yang memungkinkan umat Islam pada masa Kekhalifahan Rasyidin menjalin hubungan kenegaraan secara resmi dengan Tiongkok. Catatan literatur sejarah kuno mendokumentasikan bahwa misi diplomatik perdana dunia Islam tiba di daratan Tiongkok pada tahun 651 Masehi, tepat pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.
Delegasi penting ini diyakini dipimpin oleh sahabat senior Nabi, Sa’d bin Abi Waqqas. Rombongan tersebut diterima langsung di ibu kota oleh Kaisar Gaozong dari Dinasti Tang. Pertemuan ini membuahkan hasil diplomasi yang positif, dibuktikan dengan diberikannya izin resmi dari kaisar bagi komunitas Muslim untuk mendirikan tempat ibadah permanen yang kini dikenal sebagai Masjid Huaisheng di wilayah Guangzhou.
Meluruskan Fakta Akademis di Balik Pepatah Populer
Melihat kemajuan infrastruktur dan sains Tiongkok pada abad ketujuh, anjuran untuk pergi menimba ilmu ke negara tersebut terdengar sangat logis secara historis. Kendati demikian, para ulama dan pakar ilmu hadis secara tegas menyatakan bahwa kalimat “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China” sama sekali bukan perkataan dari Nabi Muhammad SAW.
Pakar syariah dari Rumah Fiqih Indonesia, Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA., menjelaskan bahwa hasil penelusuran terhadap rantai periwayatan (sanad) kalimat tersebut menunjukkan adanya kecacatan struktural yang fatal. Dari berbagai jalur penyampaian yang ada, riwayat tersebut berhulu pada seorang perawi bernama Abu Atikah Tarif bin Sulaiman.
Dalam catatan ensiklopedia biografi ulama klasik, Abu Atikah diidentifikasi memiliki rekam jejak sebagai seorang pendusta dan pemalsu hadis (kadzab). Berdasarkan aturan baku metodologi keilmuan Islam, keberadaan satu saja pemalsu dalam rantai sanad membuat teks tersebut divonis palsu (Maudhu’) dan dilarang keras untuk disandarkan kepada sosok Rasulullah SAW.
Jejak Asimilasi Budaya yang Bertahan Hingga Kini
Meskipun pepatah kewajiban mencari ilmu ke Tiongkok terbukti tidak memiliki legitimasi tekstual dari Nabi, interaksi panjang antara dunia Islam dan Tiongkok tetap melahirkan pertukaran budaya yang nyata. Dampak dari proses asimilasi sosial ini dapat dilihat secara jelas dalam manifestasi kebudayaan Islam di kawasan Nusantara.
Salah satu bentuk akulturasi yang paling ikonik adalah penggunaan busana “baju koko” oleh pria Muslim di Indonesia. Pakaian yang saat ini identik sebagai baju ibadah resmi tersebut sejatinya diadaptasi secara langsung dari kemeja tradisional khas pria Tionghoa masa lampau yang bernama kemeja Tui-Khim. Desainnya yang rapi dan tertutup membuatnya mudah diterima oleh para tokoh agama setempat pada masa itu.
Fakta sejarah mencatat bahwa Tiongkok pada masa Dinasti Tang memang pantas menyandang status sebagai pusat peradaban dengan teknologi yang melampaui zamannya. Kendati pepatah untuk menuntut ilmu ke sana terbukti bukan bersumber dari sabda yang valid, sejarah hubungan baik, semangat inovasi, dan asimilasi budaya yang saling menghargai tetap menjadi catatan emas yang mewarnai perjalanan peradaban manusia.


