
BOGOR – Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran resmi dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan udara dan rudal berskala besar tersebut menyasar fasilitas militer, pusat komando, serta instalasi nuklir yang tersebar di sedikitnya 17 provinsi, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, dan Kermanshah. Dalam 12 jam pertama, hampir 900 serangan dilaporkan dilancarkan ke berbagai target strategis.
Eskalasi ini terjadi dua hari setelah putaran ketiga perundingan nuklir antara delegasi Amerika Serikat dan Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan. Situasi semakin memanas setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak lagi memiliki akses untuk memantau sejumlah fasilitas nuklir Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional.
Pemerintah Amerika Serikat menyebut operasi tersebut sebagai langkah pencegahan atas dugaan percepatan program nuklir dan pengembangan rudal jarak jauh Iran. Israel turut menyatakan bahwa tindakan militer diambil untuk menekan kemampuan pertahanan dan struktur komando Iran.
Serangan difokuskan pada tiga sasaran utama, yakni sistem pertahanan udara, fasilitas produksi dan peluncuran rudal, serta jaringan komando militer. Militer Israel melaporkan menyerang ratusan target individu, sementara pasukan Amerika Serikat mengarahkan gempuran pada fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Salah satu dampak paling signifikan dari operasi ini adalah laporan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan yang menghantam kompleks Beit-e Rahbari di Teheran. Selain itu, sejumlah pejabat tinggi militer Iran, termasuk Komandan Korps Garda Revolusi Islam dan Menteri Pertahanan, juga dilaporkan menjadi korban.
Kematian pucuk pimpinan negara tersebut memicu respons cepat dari struktur pemerintahan Iran. Pemerintah menetapkan masa berkabung nasional dan membentuk dewan transisi darurat yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian bersama dua pejabat tinggi lainnya sesuai amanat konstitusi.
Operasi 28 Februari 2026 ini menjadi salah satu serangan paling intensif dalam sejarah hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Skala target yang luas serta jatuhnya jajaran pimpinan tertinggi menandai babak baru dalam dinamika konflik yang sebelumnya lebih banyak berlangsung dalam bentuk tekanan diplomatik dan operasi terbatas.


