
JAKARTA – Pesta kembang api dan kemeriahan malam pergantian tahun di Jakarta telah usai. Namun, ribuan ton sampah yang tertinggal menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan hanya dalam hitungan jam.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bergerak cepat membersihkan sisa perayaan tersebut, berhasil mengangkut total 132 ton sampah dari titik‑titik keramaian di seluruh Ibu Kota pada pagi 1 Januari 2026. Keberhasilan ini sekaligus memastikan jalanan Jakarta kembali bersih sebelum fajar menyingsing.
Operasi Semut: Gerak Cepat DLH dari Tengah Malam
Proses pembersihan dimulai segera setelah massa mulai membubarkan diri. DLH DKI Jakarta menerapkan strategi yang disebut “Operasi Semut”, dimulai tepat pukul 00.30 WIB. Ribuan petugas kebersihan yang akrab disebut “Pasukan Oranye” menyisir jalanan protokol dan pusat keramaian utama sejak dini hari.
Targetnya sangat ambisius: semua sampah harus bersih sebelum pukul 05.00 WIB. Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menyatakan bahwa petugas bekerja tanpa henti dari 00.30 hingga 04.00 WIB, memastikan seluruh area perayaan, jalan utama, dan tempat wisata bebas dari tumpukan sampah.
Data Volume Sampah dan Dukungan Armada Pembersih
Berdasarkan rekap data DLH, total sampah yang terkumpul mencapai 132 ton — sedikit naik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat sekitar 130 ton. Meski angka ini termasuk besar, DLH berhasil menangani volume tersebut lebih cepat dari prediksi awal yang memperkirakan mencapai 150 ton.
Untuk menangani pembersihan secara maksimal, DLH DKI Jakarta mengerahkan:
- Sekitar 3.395 – 3.900 petugas kebersihan
- 68 truk pengangkut sampah
- 53 unit road sweeper (mobil penyapu jalan)
- 27 mobil lintas operasional untuk mobilitas cepat
Lokasi dengan volume sampah tertinggi meliputi area perayaan utama seperti Bundaran HI, Jalan Sudirman–Thamrin, Monas, hingga Kota Tua. Kecamatan Tamansari mencatat angka pengumpulan sampah yang signifikan akibat tingginya jumlah pengunjung di kawasan wisata sejarah tersebut.
Jenis Sampah Dominan dan Peran Cuaca
Mayoritas sampah yang dikumpulkan berasal dari kemasan plastik makanan dan minuman, serta sisa atribut perayaan. Kondisi cuaca yang cerah sepanjang malam pergantian tahun juga membantu mempercepat proses pembersihan, karena sampah berada dalam kondisi kering dan lebih mudah ditangani.
“Kami sempat memproyeksikan jumlah sampah bisa lebih tinggi jika hujan turun dan membuat sampah menjadi basah serta lebih berat. Namun beruntung cuacanya cerah,” ujar Asep.
Selain faktor cuaca, kesadaran sebagian warga yang membawa sendiri wadah minum (tumbler) turut membantu mengurangi volume sampah plastik.
Dorong Perayaan Minim Sampah di Masa Depan
Keberhasilan DLH dalam membersihkan 132 ton sampah dalam waktu kurang dari enam jam menunjukkan kesiapan infrastruktur kota yang semakin baik. Meski begitu, tren peningkatan jumlah sampah setiap tahun menunjukkan perlunya edukasi publik tentang perayaan minim sampah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap masyarakat tidak hanya merayakan momen besar dengan euforia, tetapi juga semakin sadar untuk membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama acara berlangsung.
Sinergi antara kesiapsiagaan petugas kebersihan dan kesadaran warga menjadi kunci utama untuk menjaga wajah Ibu Kota tetap bersih pasca‑pesta besar.


