
BOGOR – Pemerintah Republik Islam Iran dilaporkan telah berada pada tahap akhir perundingan dengan China untuk mengakuisisi sistem rudal penjelajah anti-kapal supersonik CM-302. Pembelian persenjataan strategis ini berlangsung di tengah pengerahan armada Angkatan Laut Amerika Serikat secara masif di perairan Timur Tengah pada akhir Februari 2026.
Bagi komunitas internasional dan pelaku pasar global, manuver militer ini memicu tingkat kewaspadaan tinggi. Kehadiran rudal berkecepatan tinggi di sepanjang pesisir Iran dinilai berpotensi mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur maritim vital yang melayani sekitar 20 persen pasokan minyak laut dunia setiap harinya.
Latar Belakang Percepatan Negosiasi
Proses perundingan antara Teheran dan Beijing mengenai pengadaan sistem pertahanan ini sejatinya telah bergulir selama dua tahun terakhir. Namun, negosiasi tersebut mengalami percepatan drastis pasca-Perang 12 Hari antara Israel dan Iran yang meletus pada pertengahan Juni 2025 lalu.
Konflik bersenjata yang diwarnai kampanye serangan udara intensif oleh militer Israel dengan dukungan Amerika Serikat tersebut memberikan pukulan telak bagi postur pertahanan Iran. Hancurnya sebagian besar fasilitas pertahanan udara Iran, termasuk instalasi rudal S-300 buatan Rusia dan sistem lokal Bavar-373, memaksa Teheran segera mencari pasokan persenjataan baru.
Merespons kerentanan tersebut, delegasi militer tingkat tinggi Iran yang dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan Massoud Oraei bertolak ke China pada musim panas tahun lalu. Menurut sejumlah sumber dari lingkaran dalam keamanan dan diplomatik yang mengetahui jalannya perundingan, kesepakatan saat ini hampir rampung seutuhnya, meski jadwal pengiriman unit rudal belum diputuskan secara resmi.
Spesifikasi CM-302 dan Potensi Ancaman Taktis
Rudal CM-302 yang diproduksi oleh perusahaan milik negara China, China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC), dipasarkan sebagai salah satu rudal anti-kapal paling mutakhir di dunia. Persenjataan ini memiliki jangkauan operasional sekitar 290 kilometer dan dapat melesat hingga Mach 4, atau setara empat kali kecepatan suara.
Keunggulan utama persenjataan ini terletak pada profil penerbangannya. Rudal CM-302 dirancang khusus untuk terbang sangat rendah di atas permukaan laut dan mampu melakukan manuver zig-zag pada fase akhir mendekati target. Dipadukan dengan hulu ledak seberat 250 kilogram, proyektil ini dinilai mampu menembus sistem pertahanan radar tercanggih sekaligus memberikan daya hancur fatal bagi kapal perusak maupun kapal induk.
Mantan perwira intelijen Israel dan peneliti senior, Danny Citrinowicz, memproyeksikan bahwa kehadiran persenjataan ini akan mengubah konstelasi kekuatan secara total di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa kecepatan supersonik membuat rudal CM-302 sangat sulit untuk dicegat oleh sistem pertahanan rudal anti-balistik yang beroperasi saat ini.
Pengerahan Armada Amerika Serikat
Rencana pembelian persenjataan canggih ini bertepatan dengan mobilisasi militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah sejak invasi Irak pada 2003. Pemerintahan Presiden Donald Trump telah menginstruksikan pengerahan armada laut berskala masif sebagai bentuk persiapan menghadapi potensi kegagalan perundingan nuklir dengan Teheran.
Kekuatan utama armada ini bertumpu pada dua gugus tempur kapal induk. USS Abraham Lincoln telah bersiaga di Laut Arab sejak akhir Januari lalu, sementara kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, saat ini berada di kawasan Mediterania Timur. Secara keseluruhan, Amerika Serikat telah menyiagakan lebih dari 10.000 prajurit militer, 14 kapal perang berbagai kelas, serta 150 pesawat jet tempur mutakhir di kawasan tersebut.
Pihak Gedung Putih sejauh ini belum memberikan pernyataan teknis mengenai negosiasi rudal Iran dan China. Namun, para pejabat pemerintah menegaskan kembali sikap tegas Presiden Trump bahwa Iran harus menyepakati perjanjian baru terkait program nuklirnya, atau Amerika Serikat siap mengambil tindakan militer yang keras.
Skema Barter Minyak dan Pelanggaran Sanksi Internasional
Di tengah jeratan sanksi ekonomi Barat yang memutus akses perbankan global, sumber diplomatik mengungkapkan bahwa Iran menyiasati pembayaran persenjataan ini melalui skema barter pengiriman minyak mentah ke China. Badan Informasi Energi Amerika Serikat mencatat bahwa hampir 90 persen ekspor minyak mentah dan kondensat Iran memang mengalir ke Beijing.
Transaksi persenjataan ofensif ini berpotensi besar melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Hal ini dikarenakan embargo senjata PBB terhadap Iran telah diberlakukan kembali secara penuh pada September 2025 lalu akibat kegagalan Teheran memenuhi kewajiban internasionalnya pasca-konflik.
Untuk mempertahankan aliran dana dan mendistribusikan minyaknya, Iran sangat bergantung pada jaringan perusahaan cangkang dan apa yang dikenal sebagai armada bayangan. Merespons aktivitas penyelundupan ini, Departemen Keuangan Amerika Serikat baru-baru ini menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan belasan kapal tanker, termasuk kapal HOOT berbendera Panama dan OCEAN KOI berbendera Barbados, yang terbukti memfasilitasi penjualan minyak rezim tersebut ke luar negeri.
Gejolak Maritim dan Dampak Signifikan bagi Stabilitas Energi Global
Terkait kesepakatan ini, pejabat Kementerian Luar Negeri Iran memberikan sinyal kuat dengan menyatakan bahwa negaranya memiliki perjanjian keamanan dengan negara sekutu dan berhak memanfaatkannya di waktu yang tepat. Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, memilih bersikap diplomatis dengan menyatakan tidak memiliki informasi spesifik mengenai penjualan rudal, namun menegaskan bahwa kerja sama normal antarnegara sah secara hukum.
Ketegangan militer ini secara langsung telah berimbas pada lalu lintas maritim regional. Sebagai bentuk unjuk kekuatan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Angkatan Laut menggelar latihan militer berskala besar bertajuk “Smart Control” pada pertengahan Februari 2026. Latihan yang diwarnai uji coba peluncuran rudal pertahanan udara Sayyad-3G ini memaksa penutupan sebagian area operasional pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Langkah Iran untuk mengakuisisi rudal CM-302 menandai pergeseran nyata dalam lanskap keamanan di Teluk Persia. Kehadiran persenjataan mematikan ini menjadi elemen krusial bagi Teheran untuk menerapkan strategi penolakan area, yang bertujuan membatasi pergerakan armada militer asing di sepanjang perairannya.
Bagi negara-negara dengan tingkat konsumsi minyak tinggi di kawasan Asia, termasuk Indonesia, eskalasi militer ini merupakan sinyal bahaya yang nyata. Setiap letupan konflik terbuka dan gangguan operasional di Selat Hormuz dipastikan akan menghambat rantai pasok energi secara instan, memicu lonjakan harga komoditas minyak mentah, dan pada akhirnya memberikan konsekuensi destruktif terhadap laju pertumbuhan perekonomian dunia.


