
BOGOR – Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) untuk memangkas suku bunga acuan (Fed Funds Rate) sebesar 25 basis poin pada pertengahan Desember 2025 memberikan dampak dinamis bagi pasar keuangan Indonesia. Langkah moneter yang telah lama dinanti ini awalnya disambut positif oleh pelaku pasar domestik, namun pergerakan nilai tukar Rupiah pada pembukaan pekan ini, Senin (15/12/2025), menunjukkan bahwa kewaspadaan investor masih tinggi.
Peristiwa ini menjadi sinyal penting bagi peta ekonomi 2026, mengingat dampaknya yang meluas mulai dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), imbal hasil obligasi negara, hingga proyeksi pertumbuhan sektor riil di tahun mendatang.
Dinamika Volatilitas Rupiah: Menguat Jumat, Terkoreksi Senin
Berdasarkan data pasar spot, respons Rupiah terhadap kebijakan The Fed terbagi dalam dua fase. Pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (12/12/2025), mata uang Garuda menunjukkan performa gemilang dengan menutup perdagangan di level Rp16.646 per Dolar AS, menguat sekitar 0,18% atau 30 poin dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan ini sejalan dengan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang berada di posisi Rp16.652 per Dolar AS.
Namun, tren penguatan tersebut tertahan pada pembukaan pekan ini. Pada Senin pagi (15/12/2025), Rupiah mengalami tekanan dan dibuka melemah ke level Rp16.665 per Dolar AS, terkoreksi sekitar 0,11%.
Para analis menilai pelemahan di awal pekan ini merupakan respons wajar pasar (technical correction) dan aksi ambil untung (profit taking) setelah penguatan tajam sebelumnya. Selain itu, investor global kembali mengambil sikap hati-hati (wait and see) menanti rilis data ekonomi AS terbaru terkait ketenagakerjaan yang akan menjadi petunjuk langkah The Fed selanjutnya di tahun 2026.
Sinyal “Hawkish Cut” dari The Fed
Meskipun The Fed menurunkan suku bunga ke kisaran 3,50%–3,75%—level terendah dalam tiga tahun terakhir—narasi yang menyertai keputusan tersebut cenderung berhati-hati. Dalam dokumen proyeksi ekonominya, para pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa siklus pemangkasan di tahun 2026 mungkin akan sangat terbatas, dengan estimasi hanya satu kali penurunan lanjutan.
Sikap ini dikenal sebagai “Hawkish Cut”, di mana pelonggaran moneter dilakukan namun tetap disertai retorika ketat untuk menjaga ekspektasi inflasi. Hal inilah yang mencegah Dolar AS jatuh terlalu dalam dan kembali memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Dampak Positif pada Pasar Modal dan Obligasi
Berbeda dengan pasar uang yang fluktuatif, pasar modal merespons penurunan biaya pinjaman global dengan lebih optimistis. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Jumat (12/12) berhasil menguat 0,46% ke level 8.660,49.
Kenaikan ini didorong oleh sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Data Bursa Efek Indonesia mencatat penguatan signifikan pada:
- Sektor Barang Baku (Basic Industry): Melonjak 5,52%.
- Sektor Properti: Naik 1,02%, didorong ekspektasi penurunan bunga KPR di 2026.
- Sektor Energi: Menguat 1,23%.
Di sisi lain, pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga mendapatkan angin segar. Imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun turun ke kisaran 6,16%–6,18% , yang mengindikasikan adanya aliran modal masuk (capital inflow) ke pasar obligasi pemerintah seiring menyempitnya selisih imbal hasil dengan US Treasury.
Kebijakan Pemerintah dan Prospek Ekonomi 2026
Merespons dinamika global ini, otoritas moneter dan fiskal Indonesia tetap menjaga stabilitas. Bank Indonesia (BI) sejauh ini mempertahankan BI-Rate di level 4,75% sepanjang November-Desember 2025, memilih pendekatan pruden untuk menjaga daya tarik aset Rupiah.
Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan optimisme terhadap likuiditas perekonomian. Dalam pernyataannya pekan lalu, Purbaya menyebutkan bahwa injeksi likuiditas dan pengelolaan anggaran yang disiplin telah membuat “ekonomi hidup lagi”, dengan target pertumbuhan ekonomi 2026 dipatok pada kisaran 5,2% hingga 5,4%.
Pemerintah juga tengah menyiapkan strategi untuk menjaga momentum konsumsi domestik, termasuk mempertimbangkan keberlanjutan insentif untuk sektor otomotif dan perumahan yang diprediksi akan menjadi motor pertumbuhan di tahun 2026 seiring melandainya suku bunga kredit.
Menjaga Momentum di Tengah Ketidakpastian
Secara keseluruhan, pemangkasan suku bunga The Fed memberikan ruang napas bagi ekonomi Indonesia menyongsong tahun 2026. Penurunan biaya dana (cost of fund) global diharapkan dapat memacu investasi langsung dan portofolio.
Meskipun demikian, volatilitas nilai tukar Rupiah di awal pekan ini menjadi pengingat bahwa risiko eksternal belum sepenuhnya hilang. Pelaku pasar dan pemangku kebijakan perlu terus mencermati data ekonomi AS dan tensi geopolitik yang dapat memicu pembalikan arus modal secara tiba-tiba. Bagi masyarakat dan investor, diversifikasi aset tetap menjadi strategi kunci dalam menghadapi masa transisi kebijakan moneter global ini.


