
BOGOR – Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan berat dalam beberapa pekan terakhir. Mata uang Indonesia tercatat melemah ke kisaran Rp 17.700-an per dollar AS — level terlemah sepanjang sejarah — di tengah meningkatnya gejolak geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi domestik. Kekhawatiran publik pun meluas setelah beredar prediksi rupiah berpotensi menyentuh Rp 25.000 per dollar AS pada pertengahan 2026.
Tekanan ini mendorong Bank Indonesia mengambil langkah tegas. Pada Rapat Dewan Gubernur 19-20 Mei 2026, bank sentral memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen — kenaikan pertama dalam dua tahun terakhir, mengakhiri periode bertahan selama delapan bulan berturut-turut.
Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut konflik di Timur Tengah sebagai salah satu pendorong utama tekanan terhadap nilai tukar. Situasi di kawasan itu membuat harga minyak dunia tetap tinggi, sedangkan investor cenderung menempatkan dana mereka pada aset yang dianggap lebih aman, termasuk dollar AS.
Selain faktor global, sejumlah kondisi domestik turut memperberat situasi. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa defisit fiskal yang melebar, ruang fiskal yang terbatas akibat subsidi membengkak, serta ketidakpastian terkait kebijakan baru pemerintah — termasuk pembentukan BUMN baru PT Danantara Sumberdaya Indonesia — membuat pelaku pasar lebih berhati-hati. Surplus neraca perdagangan barang Indonesia juga mencatat penurunan, dari 7,6 miliar dollar AS pada kuartal IV 2025 menjadi 5,5 miliar dollar AS pada kuartal I 2026.
Kondisi ini diperparah oleh ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan di level tinggi lebih lama, yang mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Apa yang Terjadi jika Rupiah Benar-benar Tembus Rp 25.000
Ekonom Acuviarta menegaskan bahwa skenario rupiah menyentuh Rp 25.000 per dollar AS akan membawa dampak yang sangat serius bagi perekonomian Indonesia. APBN berpotensi tidak mampu menanggung beban yang ada, harga bahan pokok melonjak, dan inflasi bisa naik secara signifikan.
Dampak serupa juga diuraikan oleh Ekonom LPEM FEB UI Wijayanto. Ia menjelaskan tiga konsekuensi utama yang akan langsung terasa: kenaikan harga barang impor akibat inflasi yang bersumber dari luar negeri, meningkatnya cicilan utang luar negeri baik milik pemerintah maupun swasta, serta potensi arus keluar modal yang semakin deras karena kepercayaan terhadap rupiah melemah. Kondisi ini pada akhirnya bisa menekan nilai tukar lebih jauh.
Perlu dicatat, asumsi kurs dalam APBN 2026 ditetapkan di angka Rp 16.500 per dollar AS. Dengan nilai tukar saat ini yang sudah berada di kisaran Rp 17.700-an, selisihnya sudah mencapai sekitar tujuh persen dari asumsi awal, yang berarti beban pembayaran kewajiban luar negeri dalam rupiah otomatis ikut meningkat.
Langkah Bank Indonesia Menstabilkan Rupiah
Bank Indonesia tidak tinggal diam. Selain menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen, bank sentral menetapkan suku bunga Deposit Facility di 4,25 persen dan Lending Facility di 6 persen. Perry Warjiyo menyatakan bahwa kenaikan suku bunga ini merupakan langkah untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen untuk 2026 dan 2027.
BI juga memperketat instrumen di pasar valas, termasuk melalui intervensi di pasar NDF luar negeri serta transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri. Struktur suku bunga instrumen moneter ikut diperkuat, dengan kenaikan bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ke level 6,21 persen hingga 6,45 persen tergantung tenor.
Kenaikan suku bunga memang membawa konsekuensi tersendiri. Di satu sisi, langkah ini diharapkan menarik arus masuk investasi portofolio asing. Di sisi lain, suku bunga kredit perbankan berpotensi ikut naik, yang bisa memengaruhi biaya pinjaman bagi pelaku usaha.
Fundamental Ekonomi Dinilai Masih Kuat
Di tengah tekanan tersebut, Perry Warjiyo menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued dan diyakini akan kembali menguat seiring membaiknya kondisi global. Ia menunjuk pada fundamental ekonomi domestik yang masih terjaga sebagai dasar keyakinan itu.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi. Inflasi April 2026 tercatat 2,42 persen secara tahunan, turun dibandingkan Maret 2026 yang berada di angka 3,48 persen.
Analis Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.600-17.725 per dollar AS dalam waktu dekat. Sementara Acuviarta memproyeksikan nilai tukar akan berada di kisaran Rp 17.500-18.000 pada Agustus 2026 — masih jauh dari skenario Rp 25.000 yang dikhawatirkan publik.
Tantangan yang Perlu Diatasi Bersama
Ekonom Wijayanto menilai upaya BI menahan pelemahan rupiah tidak akan efektif tanpa dukungan dari sisi kebijakan pemerintah. Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki secara menyeluruh: pola komunikasi kebijakan yang lebih terukur, soliditas APBN, iklim investasi dan usaha yang kondusif, serta perbaikan struktur neraca pembayaran yang membutuhkan komitmen lintas bidang — fiskal, moneter, dan sektoral.
Skenario rupiah menembus Rp 25.000 per dollar AS saat ini masih dinilai sebagai skenario ekstrem yang tidak diharapkan terjadi. Namun demikian, trajektori pelemahan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir menjadi pengingat bahwa menjaga stabilitas nilai tukar tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter semata. Koordinasi antara pemerintah dan bank sentral, serta kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional, akan menjadi penentu ke mana rupiah bergerak selanjutnya.


