Waspada Modus Penipuan "Iklan Google" Terbaru, Incar Saldo Rekening Pengguna!

Bogor – Sebuah gaya penipuan siber (cybercrime) terbaru sedang marak menargetkan pengguna internet di Indonesia pada akhir tahun 2025. Berbeda dengan metode lama yang mengandalkan pesan berantai di WhatsApp atau SMS, modus baru ini memanfaatkan fitur Google Search Ads (Iklan Pencarian Google) untuk menjebak korban. Para pelaku kejahatan siber membeli slot iklan agar situs palsu mereka muncul di urutan paling atas hasil pencarian, menyamar sebagai layanan resmi perbankan, maskapai penerbangan, hingga layanan pelanggan (customer service).

Fenomena ini menjadi ancaman serius karena mengeksploitasi kepercayaan masyarakat terhadap mesin pencari Google. Korban yang sedang terburu-buru mencari solusi—misalnya nomor call center bank atau halaman login internet banking—sering kali tidak menyadari bahwa tautan teratas yang mereka klik adalah jebakan “Phishing” yang dirancang sangat mirip dengan aslinya. Begitu korban memasukkan data pribadi atau menghubungi nomor yang tertera, saldo rekening dapat terkuras habis dalam hitungan menit.

Modus Operandi: Manipulasi “Sponsored” Search

Berdasarkan penelusuran dan laporan keamanan siber terbaru, para pelaku menggunakan teknik yang dikenal sebagai Malvertising (Malicious Advertising). Mereka membayar Google untuk menempatkan situs tiruan mereka di posisi teratas dengan label “Bersponsor” atau “Sponsored”.

Kronologinya bermula ketika pengguna mengetik kata kunci populer seperti “Login Bank [Nama Bank]”, “Call Center [Nama Bank]”, atau “Cara membatalkan tiket”. Algoritma iklan akan menampilkan situs penipu di baris pertama, seringkali di atas situs resmi perusahaan yang asli. Tampilan situs web tersebut dibuat nyaris identik dengan situs asli (teknik spoofing), lengkap dengan logo dan tata letak yang meyakinkan. Tujuannya adalah mencuri kredensial login (username dan password) atau mengarahkan korban untuk menelepon nomor palsu di mana pelaku akan memandu korban untuk mentransfer uang.

Data dan Dampak Kerugian Global

Skala serangan ini tidak main-main. Laporan dari Antara News yang mengutip data global menyebutkan bahwa Google telah memblokir lebih dari 5,1 miliar iklan yang dicurigai sebagai penipuan sepanjang tahun lalu. Namun, para pelaku terus mencari celah baru dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat materi iklan yang lolos dari deteksi otomatis.

Sementara itu, riset industri periklanan digital memproyeksikan kerugian global akibat penipuan iklan (ad fraud) dan dampaknya terhadap konsumen bisa mencapai angka fantastis, yakni sekitar USD 50 miliar (sekitar Rp780 triliun) pada tahun 2025. Sektor jasa keuangan mencatat tingkat penipuan tertinggi, mencapai 14,3%, menjadikannya target utama para sindikat ini.

Pernyataan Resmi dan Peringatan Ahli

Menanggapi tren yang mengkhawatirkan ini, pihak Google melalui blog keamanan resminya mengakui adanya peningkatan upaya penipuan yang menyalahgunakan platform mereka, terutama yang melibatkan lowongan kerja palsu dan peniruan identitas bisnis.

“Scammers semakin canggih dan kini menyalahgunakan alat berbasis AI untuk memperbesar skala dan efektivitas serangan mereka. Kami terus memperkuat kebijakan dan sistem deteksi untuk menghapus iklan yang meniru bisnis resmi,” tulis perwakilan Google dalam rilis keamanan terbarunya.

Di Indonesia, lembaga perbankan seperti Bank Danamon juga telah mengeluarkan imbauan keras terkait modus penipuan yang memalsukan titik lokasi dan nomor telepon Customer Service di Google Maps dan Google Search. Pihak bank menegaskan bahwa nasabah harus selalu memverifikasi nomor kontak melalui situs web resmi yang diketik manual di browser, bukan sekadar mengklik hasil pencarian teratas.

Dampak Langsung pada Masyarakat

Dampak dari penipuan gaya baru ini sangat fatal bagi kondisi finansial korban. Salah satu skenario yang sering terjadi adalah “Fake Support Number”. Ketika korban menelepon nomor yang tertera di iklan Google (yang dikira nomor resmi bank), pelaku di ujung telepon akan berpura-pura menjadi petugas bank yang profesional.

Dengan teknik rekayasa sosial (social engineering), pelaku akan meminta korban untuk menyebutkan kode OTP (One-Time Password) atau memandu korban ke mesin ATM untuk melakukan “verifikasi”, yang padahal adalah instruksi transfer dana ke rekening pelaku. Karena korban merasa merekalah yang proaktif mencari nomor tersebut, tingkat kecurigaan mereka cenderung rendah dibandingkan jika mereka ditelepon tiba-tiba oleh orang asing.

Evolusi Kejahatan Siber

Pergeseran ke arah manipulasi mesin pencari ini menunjukkan evolusi kejahatan siber yang semakin “pasif-agresif”. Jika sebelumnya pelaku aktif mengirimkan tautan berbahaya (smishing/phishing via email), kini mereka menunggu bola dengan memasang jaring di tempat yang paling sering dikunjungi pengguna internet: halaman pertama Google. Penggunaan AI untuk meniru suara manusia atau membuat desain web dalam sekejap turut memperparah situasi, membuat situs palsu semakin sulit dibedakan oleh mata telanjang.

Proyeksi ke Depan

Penipuan melalui iklan mesin pencari Google menjadi peringatan keras bahwa posisi teratas di hasil pencarian tidak menjamin keamanan atau keaslian sumber. Masyarakat diimbau untuk selalu skeptis terhadap hasil pencarian yang memiliki label “Sponsored” atau “Bersponsor” ketika hendak melakukan transaksi keuangan atau mencari kontak darurat. Ke depannya, pertarungan antara sistem deteksi AI milik perusahaan teknologi dan adaptabilitas para penipu diprediksi akan semakin ketat. Pengguna internet harus menjadi garis pertahanan terakhir dengan meningkatkan literasi digital dan selalu melakukan verifikasi ganda (double check) alamat situs web (URL) sebelum memasukkan data sensitif.

Fenomena “The Law of Reversed Effort”: Mengapa Keinginan Kerap Terwujud Saat Kita Berhenti Berharap?DiriKarir

Fenomena “The Law of Reversed Effort”: Mengapa Keinginan Kerap Terwujud Saat Kita Berhenti Berharap?

Muhamad JuwandiFebruary 5, 2026
Waspada Tren Sleep Call: Ganggu Kualitas Tidur hingga Picu Ketergantungan EmosionalDiriSehat

Waspada Tren Sleep Call: Ganggu Kualitas Tidur hingga Picu Ketergantungan Emosional

Muhamad JuwandiDecember 19, 2025
Menguak Logika Zero-Sum Game dalam PersainganDiriFinansial

Menguak Logika Zero-Sum Game dalam Persaingan

Keunal AdminNovember 3, 2025