
BOGOR – Banyak orang mengandalkan tidur siang untuk “menebus” utang tidur atau sekadar mengusir kantuk di tengah hari. Namun, alih-alih merasa segar, sebagian orang justru merasa pening dan melaporkan semakin sulit untuk terlelap di malam hari.
Kondisi ini memicu pertanyaan umum: benarkah tidur siang yang terlalu lama, khususnya lebih dari 30 menit, menjadi biang keladinya?
Tidur siang, atau napping, adalah pedang bermata dua. Jika dilakukan dengan benar, ia bisa menjadi alat yang ampuh untuk meningkatkan kewaspadaan, memori, dan suasana hati. Namun, jika durasi dan waktunya salah, tidur siang justru dapat mengganggu jam biologis tubuh. Para ahli tidur sepakat bahwa durasi adalah faktor penentu utama.
‘Power Nap’ vs Tidur Terlalu Lama: Batasan Durasi Ideal
Para ahli kesehatan tidur, termasuk dari lembaga seperti National Sleep Foundation (NSF) di Amerika Serikat, sering mempromosikan konsep “power nap”. Ini adalah tidur siang singkat yang dirancang untuk memaksimalkan manfaat tanpa menimbulkan efek negatif.
Durasi ideal untuk power nap adalah sekitar 10 hingga 20 menit.
Dalam rentang waktu ini, tubuh mendapatkan istirahat dalam fase tidur ringan (tahap 1 dan 2 dari siklus NREM). Ini cukup untuk menyegarkan otak, meningkatkan kewaspadaan, dan memperbaiki kinerja kognitif tanpa membuat tubuh masuk ke fase tidur yang lebih dalam.
Batas toleransi yang sering disebut adalah 30 menit. Melebihi batas ini, risiko untuk mengalami efek negatif mulai meningkat secara signifikan.
Membongkar Mekanisme: Apa yang Terjadi Saat Tidur Siang Terlalu Lama?
Jawaban mengapa tidur siang lebih dari 30 menit sering bermasalah terletak pada siklus tidur manusia. Saat kita tidur lebih dari 30 menit, otak dan tubuh mulai beralih dari tidur ringan ke fase tidur dalam, yang dikenal sebagai slow-wave sleep (SWS) atau tidur gelombang lambat.
Fase SWS adalah bagian tidur yang paling restoratif, tetapi juga paling sulit untuk bangun. Ada dua masalah utama yang timbul akibat tidur siang yang terlalu lama:
- Inersia Tidur (Sleep Inertia): Ini adalah perasaan pening, bingung, dan grogi yang muncul segera setelah bangun dari tidur yang dalam. Semakin lama Anda tidur siang (misalnya 45-60 menit), semakin besar kemungkinan Anda terbangun dari SWS dan mengalami inersia tidur. Efek ini bisa berlangsung dari beberapa menit hingga lebih dari satu jam, yang pada akhirnya mengalahkan tujuan tidur siang itu sendiri.
- Pengurangan “Tekanan Tidur” (Sleep Pressure): Sepanjang hari, otak kita secara alami membangun zat kimia yang disebut adenosin, yang menciptakan “tekanan tidur” atau rasa kantuk. Tekanan ini akan mencapai puncaknya di malam hari, memberi sinyal pada tubuh bahwa inilah waktunya untuk tidur. Tidur siang yang panjang (lebih dari 30 menit) akan membersihkan sebagian besar adenosin ini terlalu dini, sehingga mengurangi tekanan tidur yang diperlukan untuk terlelap dengan mudah di malam hari.
Dampak pada Ritme Sirkadian dan Kualitas Tidur Malam
Inti dari masalah ini adalah gangguan pada ritme sirkadian, atau jam biologis internal 24 jam tubuh kita. Ritme ini mengatur siklus tidur-bangun, produksi hormon (termasuk melatonin atau hormon tidur), dan suhu tubuh.
Menurut berbagai sumber kesehatan seperti Mayo Clinic dan KlikDokter, tidur siang yang terlalu lama dapat ” membingungkan” jam biologis ini. Tubuh mungkin salah mengartikan tidur siang yang panjang sebagai periode tidur utama.
Akibatnya, saat malam tiba, tubuh belum siap untuk tidur. Ini dapat bermanifestasi sebagai:
- Kesulitan untuk mulai tidur (onset insomnia).
- Tidur malam yang terfragmentasi atau sering terbangun.
- Bangun terlalu dini di pagi hari.
Untuk mencegah hal ini, para ahli merekomendasikan aturan waktu yang ketat. “Jika Anda memilih untuk tidur siang, usahakan melakukannya sebelum jam 3 sore,” demikian saran umum dari para pakar tidur. Tidur siang setelah jam tersebut memiliki probabilitas tertinggi untuk mengganggu tidur malam.
Manfaat Tidur Siang Singkat yang Dilakukan dengan Tepat
Meskipun tidur siang lama berisiko, tidur siang singkat (10-20 menit) yang dilakukan dengan benar memberikan banyak manfaat yang telah terverifikasi secara ilmiah. Manfaat ini mencakup:
- Peningkatan Kewaspadaan: Mengurangi rasa kantuk dan meningkatkan kesigapan.
- Peningkatan Kinerja: Memperbaiki waktu reaksi dan akurasi dalam tugas.
- Peningkatan Memori: Tidur singkat membantu dalam konsolidasi memori jangka pendek.
- Perbaikan Suasana Hati: Dapat mengurangi stres dan perasaan lelah atau jengkel.
Manfaat ini sangat relevan bagi individu seperti pekerja sif, orang tua baru, atau siapa saja yang mengalami sedikit kurang tidur.
Pengecualian dan Peringatan: Siapa yang Sebaiknya Menghindari Tidur Siang?
Penting untuk dicatat bahwa tidur siang bukanlah solusi untuk semua orang. Bagi individu yang menderita insomnia kronis atau gangguan tidur serius lainnya, tidur siang sering kali tidak disarankan.
Bagi penderita insomnia, tidur siang (bahkan yang singkat) dapat semakin memperlemah dorongan tidur di malam hari, membuat kondisi mereka semakin parah. Mereka umumnya disarankan untuk menahan kantuk di siang hari agar “tekanan tidur” tetap maksimal di malam hari.
Ada pengecualian lain, yaitu tidur siang selama 90 menit. Durasi ini secara teori memungkinkan tubuh menyelesaikan satu siklus tidur penuh (ringan, dalam, dan REM). Bangun setelah siklus penuh dapat menghindari inersia tidur. Namun, ini tetap membawa risiko tinggi mengganggu jadwal tidur malam dan tidak praktis bagi kebanyakan orang.
Menyeimbangkan Kebutuhan Istirahat Tanpa Merusak Pola Tidur
Jadi, benarkah tidur siang lebih dari 30 menit menyulitkan tidur malam? Jawabannya adalah ya, bagi kebanyakan orang, klaim tersebut terbukti benar secara ilmiah.
Tidur siang yang terlalu panjang dapat memicu inersia tidur dan mengganggu ritme sirkadian dengan mengurangi tekanan tidur yang esensial untuk malam hari.
Kunci dari tidur siang yang efektif terletak pada dua hal: durasi dan waktu. Untuk mendapatkan dorongan energi tanpa mengorbankan kualitas tidur malam, patuhi “aturan emas”: batasi tidur siang Anda antara 10 hingga 20 menit dan lakukan sebelum jam 3 sore. Tidur siang harus dianggap sebagai suplemen, bukan pengganti tidur malam yang berkualitas.


