Benarkah Wajib Tidur 8 Jam? Penjelasan Pakar Ini Mengungkap Fakta Sebenarnya

Bogor – Selama bertahun-tahun, angka “delapan jam” telah dianggap sebagai aturan emas untuk istirahat malam yang sempurna. Keyakinan ini begitu melekat hingga banyak orang merasa cemas atau bersalah ketika durasi tidur mereka tidak mencapai angka tersebut. Namun, sebuah fakta medis yang baru-baru ini kembali disorot oleh para pakar kesehatan mungkin akan mengubah cara Anda memandang rutinitas tidur. Ternyata, memaksakan diri untuk memenuhi kuota delapan jam tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa berdampak kurang baik bagi sebagian orang.

Pemahaman baru ini muncul seiring dengan berkembangnya ilmu kedokteran tidur (sleep medicine) yang menekankan bahwa kebutuhan biologis manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar angka statistik rata-rata. Artikel ini akan mengurai mengapa obsesi terhadap durasi tertentu sering kali salah kaprah dan apa yang sebenarnya dibutuhkan tubuh Anda untuk pulih secara optimal.

Rentang Waktu Ideal, Bukan Angka Mati

Fakta pertama yang perlu diluruskan adalah pedoman resmi dari National Sleep Foundation. Lembaga kesehatan tidur terkemuka ini sebenarnya tidak menetapkan satu angka mutlak, melainkan sebuah rentang waktu. Bagi orang dewasa (usia 18-64 tahun), durasi tidur yang direkomendasikan adalah antara 7 hingga 9 jam.

Dr. Daisy Mae, seorang praktisi kesehatan yang kerap mengedukasi publik mengenai pola tidur, menegaskan bahwa kebutuhan istirahat bersifat sangat individual atau personal. Genetika memainkan peran besar dalam hal ini. Ada kelompok individu yang secara alami termasuk short sleepers, di mana tubuh mereka mampu melakukan regenerasi sel dan pemulihan kognitif secara penuh hanya dalam waktu 7 jam atau bahkan kurang. Bagi kelompok ini, tidur 8 jam justru merupakan waktu yang berlebihan. Sebaliknya, ada individu yang memang membutuhkan 9 jam penuh untuk merasa bugar.

Jebakan “Orthosomnia”: Ketika Obsesi Menjadi Penyakit

Salah satu alasan mengapa pakar mulai vokal meluruskan mitos 8 jam adalah munculnya fenomena medis modern yang disebut Orthosomnia. Ini adalah gangguan tidur yang dipicu oleh kecemasan berlebihan untuk mendapatkan data tidur yang “sempurna”, sering kali didorong oleh penggunaan jam tangan pintar (smartwatch) atau aplikasi pelacak tidur.

Katie Fischer, seorang pakar perilaku tidur, menjelaskan bahwa ketika seseorang terobsesi mengejar angka 8 jam di layar ponselnya, tubuh justru merespons dengan memproduksi hormon stres (kortisol). Ironisnya, semakin keras seseorang berusaha tidur demi memenuhi target angka tersebut, semakin sulit bagi otaknya untuk masuk ke fase rileks. Akibatnya, kualitas tidur justru menurun drastis meskipun durasinya mungkin tercapai. Fokus pada kuantitas angka sering kali mengorbankan kualitas kedalaman tidur (deep sleep) yang sesungguhnya lebih vital.

Mengenali Sinyal Tubuh: Kualitas di Atas Kuantitas

Jika durasi 8 jam bukan tolok ukur utama, lantas apa indikator tidur yang sehat? Jawabannya terletak pada respon tubuh saat terjaga. Para ahli sepakat bahwa parameter keberhasilan tidur yang paling akurat adalah tingkat kewaspadaan dan stabilitas emosi di siang hari.

Mekanisme ini diatur oleh dua faktor: ritme sirkadian (jam internal tubuh) dan tekanan tidur (sleep pressure). Tekanan tidur bekerja seperti rasa lapar; semakin lama kita bangun, semakin kuat dorongan kimiawi di otak untuk tidur. Jika seseorang memaksakan tidur 8 jam padahal tekanan tidurnya hanya membutuhkan 7 jam, ia mungkin akan menghabiskan satu jam terakhir di tempat tidur dengan gelisah atau terbangun-bangun (fragmented sleep). Tidur 7 jam yang padat dan nyenyak jauh lebih restoratif secara medis dibandingkan tidur 8 jam yang terputus-putus.

Risiko Mengabaikan Ritme Alami

Salah kaprah mengenai durasi tidur juga berisiko bagi kesehatan jangka panjang. Studi epidemiologi menunjukkan pola kurva “U” terkait mortalitas dan durasi tidur. Tidur terlalu sedikit (kurang dari 6 jam secara kronis) memang berbahaya karena meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan penurunan imun. Namun, tidur berlebihan (lebih dari 9-10 jam tanpa alasan medis) juga berkorelasi positif dengan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan depresi.

Oleh karena itu, sangat penting untuk tidak terjebak pada angka “8”. Cara terbaik menemukan durasi ideal Anda adalah dengan melakukan eksperimen sederhana saat liburan: tidurlah saat lelah dan biarkan tubuh bangun sendiri tanpa alarm selama beberapa hari. Rata-rata durasi itulah kebutuhan biologis Anda yang sebenarnya.

Kesimpulan: Dengarkan Tubuh, Bukan Mitos

Informasi medis ini membawa kabar baik: Anda tidak perlu lagi merasa tertekan jika tubuh Anda sudah merasa segar hanya dengan tidur 7 jam. Mitos wajib tidur 8 jam kini telah terbantahkan oleh pemahaman bahwa kualitas dan konsistensi jauh lebih penting daripada durasi semata. Ke depannya, pendekatan kesehatan akan semakin personal, mengajak masyarakat untuk lebih peka mendengarkan sinyal tubuh sendiri alih-alih terpaku pada standar umum yang kaku. Berhentilah menghitung jam, dan mulailah memperhatikan kualitas istirahat Anda.

Waspada! Segera Hapus Jejak Digital Anda Sebelum Menyesal, Begini CaranyaTeknologi

Waspada! Segera Hapus Jejak Digital Anda Sebelum Menyesal, Begini Caranya

Keunal AdminOctober 28, 2025
Demam Hijau Melanda Ibu Kota: JKTGO Siap Gelar Pesta Matcha Terbesar Akhir Agustus IniKulinerBerita

Demam Hijau Melanda Ibu Kota: JKTGO Siap Gelar Pesta Matcha Terbesar Akhir Agustus Ini

Keunal AdminSeptember 25, 2025
5 Kebiasaan Pagi Agar Berenergi Sepanjang Hari, Jangan Langsung Minum KopiSehatDiri

5 Kebiasaan Pagi Agar Berenergi Sepanjang Hari, Jangan Langsung Minum Kopi

Muhamad JuwandiDecember 12, 2025