Menyongsong Ramadan 1447 H: Panduan Persiapan Komprehensif Menurut Tuntunan Ulama Ahlussunnah wal Jamaah

BOGOR – Hanya dalam hitungan hari, umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Euforia menyambut bulan seribu bulan ini tidak hanya sekadar persiapan hidangan sahur dan berbuka, melainkan memerlukan kesiapan mental, spiritual, dan pemahaman ilmu agama yang mumpuni agar ibadah yang dijalankan tidak sia-sia.

Persiapan yang matang menjadi krusial mengingat Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan madrasah untuk menempa diri menjadi pribadi yang bertakwa. Berdasarkan pandangan para ulama bermazhab Syafi’i dan tuntunan Nahdlatul Ulama (NU), terdapat langkah-langkah strategis yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim untuk mengoptimalkan ibadah di bulan suci ini.

Urgensi Melunasi Utang Puasa (Qadha)

Langkah paling fundamental sebelum memasuki Ramadan adalah memastikan tidak adanya tanggungan utang puasa dari tahun sebelumnya. Bagi mereka yang masih memiliki utang puasa wajib, menyegerakan qadha di sisa hari bulan Sya’ban ini adalah kewajiban yang tidak boleh ditawar.

Pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, dalam berbagai ceramah resminya secara konsisten menegaskan bahwa membayar utang puasa adalah persiapan utama. Dalam kajian kitab fiqih Syafi’iyah, seseorang yang menunda qadha puasa hingga masuk Ramadan berikutnya tanpa uzur syar’i (alasan yang dibenarkan agama), tidak hanya wajib mengqadha tetapi juga dikenakan denda atau fidyah. Oleh karena itu, inventarisasi utang ibadah harus dilakukan sejak dini agar memasuki bulan suci dalam keadaan bersih dari tanggungan.

Pemantapan Ilmu Fiqih Puasa

Semangat beribadah tanpa didasari ilmu pengetahuan (ilmu hal) berpotensi membuat amal menjadi tidak sah. Mempelajari kembali rukun, syarat sah, dan hal-hal yang membatalkan puasa sangat ditekankan. Banyak masyarakat awam yang masih terjebak pada hal-hal makruh atau bahkan melakukan hal yang membatalkan puasa tanpa disadari.

Dalam tradisi NU, pengajian tarhib Ramadan seringkali difokuskan pada bedah kitab Safinatun Najah atau Fathul Qarib untuk menyegarkan ingatan jamaah. Mengutip penjelasan dari laman resmi NU Online, memahami fiqih puasa adalah fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf. Hal ini mencakup pemahaman tentang niat yang harus dilakukan pada malam hari (tabyit an-niyat) dalam mazhab Syafi’i, serta batasan-batasan menahan diri dari fajar hingga maghrib. Tanpa ilmu, kualitas puasa seseorang dikhawatirkan hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga saja, sebagaimana diperingatkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW.

Tazkiyatun Nafs: Membersihkan Hati dari Penyakit Rohani

Selain aspek hukum formal (fiqih), persiapan batiniah atau tazkiyatun nafs memegang peranan vital. Hati yang kotor oleh dendam, iri, dan dengki akan sulit merasakan manisnya ibadah. Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam tausiyah menyambut Ramadan sering menekankan pentingnya momen Sya’ban sebagai bulan untuk saling memaafkan.

UAS merujuk pada hadits yang menjelaskan bahwa pada malam Nisfu Sya’ban, Allah SWT mengampuni dosa hamba-Nya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan (belum berdamai) dengan saudaranya. Oleh karena itu, menyambung tali silaturahmi yang terputus dan meminta maaf kepada orang tua, kerabat, serta tetangga merupakan langkah konkret membersihkan “wadah” (hati) sebelum diisi dengan “air jernih” (pahala Ramadan). Hati yang lapang akan membuat seorang muslim lebih ringan dalam menjalankan salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan qiyamul lail.

Kesiapan Fisik dan Manajemen Finansial

Ibadah puasa adalah ibadah yang sangat mengandalkan ketahanan fisik. Perubahan pola makan dan waktu tidur yang drastis memerlukan adaptasi tubuh yang baik. Menjaga pola makan sehat dan mulai mengurangi kebiasaan begadang yang tidak perlu di hari-hari terakhir Sya’ban dapat membantu tubuh tidak “kaget” saat memasuki hari pertama puasa.

Selain fisik, perencanaan finansial juga menjadi bagian dari anjuran agama, khususnya untuk memaksimalkan sedekah. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam rilis edukasinya menyebutkan bahwa persiapan harta bukan untuk kemewahan berbuka, melainkan untuk alokasi zakat fitrah, zakat mal, dan infak harian. Memiliki anggaran khusus untuk berbagi (takjil atau santunan) akan menghindarkan umat Islam dari perilaku konsumtif berlebihan dan mengalihkannya pada kegiatan sosial yang bernilai pahala berlipat ganda di bulan Ramadan.

Momentum Transformasi Spiritual Berkelanjutan

Ramadan 1447 H ini harus dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan. Sinergi antara kebersihan hati, pemahaman ilmu yang benar, penyelesaian tanggungan masa lalu, serta kesiapan fisik yang prima adalah kunci keberhasilan ibadah. Dengan mengikuti panduan para ulama yang bersanad keilmuan jelas, diharapkan umat Islam Indonesia dapat menjalani Ramadan tahun ini dengan kualitas yang jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, menjadikan bulan suci sebagai titik tolak perubahan diri menuju ketakwaan yang sejati.

Hidup aja perlu mikir, kok kuliah minta santai?PendidikanDiri

Hidup aja perlu mikir, kok kuliah minta santai?

Muhamad JuwandiFebruary 3, 2026
Google ‘Nano Banana’ Hadir: Kreasi Gambar AI Canggih yang Memukau Sekaligus Picu KekhawatiranTeknologi

Google ‘Nano Banana’ Hadir: Kreasi Gambar AI Canggih yang Memukau Sekaligus Picu Kekhawatiran

Keunal AdminSeptember 25, 2025
Waspada! Kenali Ciri-Ciri Aplikasi Berbahaya yang Mengintai dan Siap Curi Data Pribadi AndaTeknologi

Waspada! Kenali Ciri-Ciri Aplikasi Berbahaya yang Mengintai dan Siap Curi Data Pribadi Anda

Keunal AdminOctober 28, 2025

Leave a Reply