
Di tengah era digital yang serba terhubung, gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Mulai dari pembelajaran jarak jauh, hiburan, hingga sarana komunikasi, gawai menawarkan berbagai kemudahan. Namun, paparan yang tidak terkontrol membawa risiko signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental anak. Oleh karena itu, kemampuan orang tua dalam mengatur waktu gadget (screen time) menjadi krusial untuk memastikan anak tetap sehat dan bahagia..
Realitas Era Digital: Mengapa Pengaturan ‘Screen Time’ Penting?
Penggunaan gawai di kalangan anak-anak Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dan 35,57 persen di antaranya sudah mengakses internet.
Kondisi ini diperparah oleh temuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang mencatat lonjakan kasus eksploitasi seksual online terhadap anak, yang meningkat dari 1.200 kasus pada 2019 menjadi lebih dari 2.000 kasus pada 2023. Data ini menyoroti urgensi perlunya pengawasan dan pengaturan yang ketat dari orang tua, bukan hanya soal durasi, tetapi juga kualitas konten yang diakses anak.
Mengenali Dampak Positif dan Negatifnya
Penggunaan gawai memiliki dampak positif dan negatif. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengakui bahwa gawai dapat menjadi sarana edukasi yang inovatif. Anak-anak dapat mengakses permainan edukatif, belajar tanggap teknologi, dan mencari informasi pendidikan yang mungkin tidak didapat di sekolah.
Namun, Kemenkes juga memperingatkan dampak negatif yang nyata jika penggunaan berlebihan. Dampak tersebut meliputi:
- Gangguan Mata: Paparan sinar biru (blue light) dapat menyebabkan Digital Eye Strain (DES), dengan gejala mata lelah, berair, penglihatan buram, hingga merangsang rabun jauh (miopia) pada anak.
- Gangguan Tidur: Sinar biru dapat menghambat produksi hormon melatonin (hormon tidur), sehingga kualitas dan durasi tidur anak terganggu.
- Obesitas: Anak yang terlalu banyak bermain gadget cenderung kurang aktif secara fisik (sedentarian), yang meningkatkan risiko kenaikan berat badan.
Secara mental, psikolog juga menyoroti risiko seperti isolasi sosial, kesulitan menjalin komunikasi interpersonal, hingga potensi kecemasan dan gejala yang mirip Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) karena paparan stimulus yang konstan dan cepat.
Rekomendasi Para Ahli: Berapa Lama Waktu Layar yang Ideal?
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan panduan tegas mengenai durasi screen time yang ideal berdasarkan usia. Panduan ini menjadi patokan penting bagi orang tua:
- Di bawah 2 Tahun: Sebaiknya tidak diberikan screen time sama sekali, kecuali untuk video chatting dengan pendampingan.
- Usia 2-5 Tahun: Batasi maksimal 1 jam per hari, dengan konten yang berkualitas dan edukatif serta didampingi penuh.
- Usia 6 Tahun ke Atas: Boleh menggunakan gadget, namun dengan batasan waktu yang jelas dan disepakati bersama (misalnya, total 1-2 jam per hari untuk rekreasi), di luar kebutuhan belajar.
Para ahli menekankan bahwa semakin sedikit durasi screen time untuk rekreasi, semakin baik. Waktu tersebut harus diimbangi dengan minimal 180 menit aktivitas fisik (untuk anak usia 3-4 tahun) dan tidur yang berkualitas.
Strategi Praktis: Menerapkan Aturan Waktu Gadget di Rumah
Menerapkan disiplin gadget tanpa drama membutuhkan strategi yang konsisten. Berdasarkan berbagai pakar psikologi anak dan parenting, berikut adalah langkah-langkah praktis yang dapat diambil:
- Buat Kesepakatan Bersama: Libatkan anak dalam membuat aturan. Jelaskan dengan bahasa sederhana mengapa batasan itu penting. Tuliskan jadwal dan tempel di tempat yang terlihat, misalnya di kulkas. Ini mengajarkan anak tanggung jawab dan kompromi.
- Tentukan “Zona Bebas Gadget”: Tetapkan area di rumah yang mutlak bebas dari gawai, seperti kamar tidur, meja makan, dan area ibadah. Ini mendorong interaksi keluarga yang lebih berkualitas.
- Prioritaskan Konten Berkualitas: Aturan bukan hanya soal “berapa lama”, tapi juga “apa yang dilihat”. Dampingi anak dan pilihkan aplikasi atau tontonan yang edukatif, sesuai usia, dan tidak mengandung kekerasan atau konten negatif.
- Gunakan Fitur Kontrol (Parental Control): Manfaatkan teknologi yang ada di gadget atau aplikasi pihak ketiga untuk membatasi durasi dan memfilter konten yang tidak pantas secara otomatis.
- Tawarkan Alternatif Menarik: Jangan hanya melarang. Orang tua harus proaktif menyediakan aktivitas pengganti yang seru, seperti bermain di luar rumah, membaca buku bersama, berolahraga, atau melakukan proyek seni dan kerajinan.
Peran Orang Tua: Komunikasi dan Teladan sebagai Kunci
Semua aturan di atas tidak akan efektif jika orang tua tidak menjadi teladan. Psikolog anak secara konsisten menekankan bahwa anak adalah peniru ulung. Orang tua tidak bisa meminta anak berhenti main gadget sementara mereka sendiri terus-menerus menatap layar ponsel.
Saat anak rewel atau tantrum, jangan jadikan gadget sebagai “jalan pintas” untuk menenangkannya. Psikolog dari Alodokter menyarankan untuk tetap tenang, mengajak anak ke tempat sepi, mencari tahu keinginannya, dan memberikan pelukan. Memberikan gadget saat anak tantrum hanya akan mengajarkan mereka bahwa rewel adalah cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Komunikasi yang terbuka sangat penting. Dengarkan anak dengan empati saat mereka meminta waktu lebih, jelaskan batasan dengan tenang, dan tawarkan kompromi yang sehat. Berikan pujian atau reward sederhana ketika mereka berhasil mematuhi kesepakatan.
Bukan Sekadar Membatasi, Tapi Mengarahkan
Pada akhirnya, tujuan utama dari pengaturan waktu gadget bukanlah untuk menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi. Di era ini, hal tersebut hampir tidak mungkin dilakukan dan justru bisa membuat anak gagap teknologi.
Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan. Mengatur screen time adalah tentang mengajarkan anak disiplin diri, literasi digital, dan kemampuan untuk memprioritaskan interaksi sosial di dunia nyata serta aktivitas fisik. Dengan strategi yang tepat, komunikasi yang hangat, dan keteladanan yang konsisten, orang tua dapat mengarahkan anak untuk memanfaatkan teknologi secara positif, menjaga mereka tetap sehat dan bahagia di dunia digital maupun dunia nyata.


