
Jakarta – Bagi Anda yang berencana merakit komputer atau membeli laptop baru dalam waktu dekat, ada kabar yang kurang menyenangkan dari pasar teknologi global. Era memori murah tampaknya telah berakhir. Berdasarkan data terbaru dan analisis industri, harga komponen vital seperti RAM (Random Access Memory) dan penyimpanan (SSD) diprediksi akan mengalami lonjakan tajam yang membuat harga perangkat seperti laptop dan PC semakin mahal pada tahun 2026.
Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan dampak langsung dari perubahan prioritas industri semikonduktor global. Laporan dari berbagai firma riset dan pernyataan petinggi industri mengonfirmasi bahwa pasokan memori untuk konsumen umum sedang “dikorbankan” demi memenuhi permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sangat masif. Konsumen di Indonesia pun mulai merasakan dampaknya dengan kenaikan harga yang signifikan di berbagai marketplace.
Badai Sempurna di Industri Teknologi
Penyebab utama dari lonjakan harga ini adalah ketidakseimbangan struktural antara pasokan dan permintaan. Gerry Chen, General Manager dari TeamGroup, salah satu produsen memori global, memperingatkan bahwa industri saat ini sedang memasuki fase kritis. Menurutnya, lonjakan harga yang terjadi pada akhir 2025 hanyalah permulaan dari krisis pasokan yang lebih besar di tahun 2026.
Masalah utamanya terletak pada kapasitas produksi pabrik. Produsen memori besar seperti SK Hynix dan Samsung kini mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi wafer silikon mereka untuk membuat High Bandwidth Memory (HBM). HBM adalah komponen wajib untuk menjalankan server AI canggih buatan Nvidia atau Google. Proses pembuatan HBM jauh lebih rumit dan memakan area wafer yang lebih besar dibandingkan RAM komputer biasa (DDR5). Akibatnya, kapasitas produksi untuk RAM PC dan laptop menjadi berkurang drastis, memicu kelangkaan dan kenaikan harga.
Selamat Tinggal, Crucial: Tanda Perubahan Zaman
Salah satu indikator paling nyata dari pergeseran ini adalah keputusan mengejutkan dari Micron Technology. Perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat ini mengumumkan akan menghentikan lini bisnis konsumen mereka di bawah merek Crucial.
Selama hampir tiga dekade, Crucial dikenal sebagai merek andalan bagi perakit PC yang mencari memori berkualitas dengan harga terjangkau. Namun, Micron memutuskan untuk keluar dari pasar ini demi memfokuskan sumber daya mereka ke pasar enterprise dan pusat data AI yang menawarkan keuntungan lebih besar. Langkah ini diprediksi akan memperburuk situasi pasokan di pasar ritel, karena hilangnya salah satu pemain besar yang selama ini membantu menstabilkan harga pasar.
Fakta Lapangan: Harga di Indonesia Melonjak 2 Kali Lipat
Dampak dari dinamika global ini sudah terasa nyata di pasar tanah air. Berdasarkan pantauan pasar per Desember 2025, harga komponen memori di Indonesia telah mengalami kenaikan yang drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa harga RAM DDR5 32GB yang sebelumnya menjadi standar baru bagi gamer dan kreator konten, kini melambung ke kisaran Rp 6.500.000 hingga Rp 7.700.000. Angka ini naik hampir dua kali lipat dibandingkan harga rata-rata pada pertengahan 2024. Untuk segmen profesional yang membutuhkan kapasitas 128GB, harganya bahkan telah menembus angka Rp 29.000.000, setara dengan harga satu unit sepeda motor baru.
Kenaikan ini tentu memberatkan konsumen, terutama bagi mahasiswa, pekerja lepas (freelancer), dan pelaku UMKM yang membutuhkan perangkat komputer untuk bekerja. Spesifikasi komputer yang sebelumnya dianggap “menengah”, kini harganya masuk dalam kategori “premium”.
Laptop dan PC Branded Ikut Naik
Tidak hanya perakit PC mandiri (DIY) yang terdampak, pembeli laptop dan komputer jadi (built-up) juga harus bersiap merogoh kocek lebih dalam. Laporan dari TrendForce menyebutkan bahwa produsen besar seperti Dell dan Lenovo berencana menaikkan harga produk mereka.
Dell dilaporkan mempertimbangkan kenaikan harga sebesar 15% hingga 20% mulai pertengahan Desember 2025. Sementara itu, Lenovo telah memberikan sinyal kepada mitra bisnisnya bahwa harga baru yang lebih tinggi akan berlaku efektif mulai Januari 2026. Kenaikan ini tidak terhindarkan karena biaya komponen memori kini menyumbang porsi yang lebih besar dalam total biaya produksi perangkat.
Sampai Kapan Kondisi Ini Berlangsung?
Para analis memprediksi bahwa kondisi harga tinggi ini akan bertahan setidaknya sepanjang tahun 2026. Hal ini disebabkan karena pembangunan pabrik chip baru membutuhkan waktu 3 hingga 4 tahun hingga bisa beroperasi penuh.
- Semester I 2026: Diprediksi menjadi periode terberat dengan stok lama yang mulai habis di pasaran, memicu kenaikan harga lanjutan.
- 2027-2028: Harapan pemulihan baru terlihat pada periode ini, ketika pabrik-pabrik baru mulai beroperasi dan suplai global kembali stabil.
Menyikapi Realitas Baru: Beli Sekarang atau Tunggu Nanti?
Kenaikan harga komponen PC di tahun 2026 adalah realitas pahit akibat transformasi teknologi menuju era kecerdasan buatan. Bagi konsumen yang memiliki kebutuhan mendesak untuk pengadaan perangkat, menunda pembelian mungkin bukan strategi terbaik saat ini mengingat tren harga yang terus naik. Namun, bagi yang bisa menunggu, merawat perangkat lama sembari memantau perkembangan pasar adalah langkah yang paling bijak.


