Awal Revolusi AI: Server Nvidia Tak Laku, Elon Musk Beli dan Ubah Sejarah

Bogor, 10 Desember 2025 – Chief Executive Officer (CEO) Nvidia, Jensen Huang, mengungkapkan fakta baru mengenai sejarah awal infrastruktur kecerdasan buatan (AI) modern. Dalam wawancara pada 3 Desember 2025, Huang menyatakan bahwa superkomputer DGX-1, yang menjadi fondasi riset deep learning, awalnya tidak mendapatkan respon positif dari pasar global saat diluncurkan tahun 2016. Situasi berubah ketika Elon Musk, melalui OpenAI, memutuskan untuk menjadi pembeli pertama perangkat tersebut.

Pengungkapan ini memberikan konteks penting mengenai perkembangan teknologi AI generatif. Keputusan pengadaan infrastruktur oleh Musk sembilan tahun lalu dinilai sebagai katalis utama yang memungkinkan percepatan riset model bahasa besar (LLM), yang kini mendasari berbagai aplikasi AI di seluruh dunia.

Tantangan Pemasaran Awal DGX-1

Pada tahun 2016, Nvidia mengalokasikan anggaran riset dan pengembangan sebesar US$ 2 miliar untuk menciptakan DGX-1, sebuah sistem komputasi yang dirancang khusus untuk algoritma kecerdasan buatan. Perangkat ini menggunakan arsitektur GPU Pascal untuk memproses data secara paralel, sebuah metode yang berbeda dari server berbasis CPU yang mendominasi pusat data saat itu.

Meskipun menawarkan spesifikasi tinggi, Huang mengakui bahwa produk tersebut sulit dipasarkan pada tahap awal. “Saat saya mengumumkan DGX-1, tidak ada permintaan pasar. Kami tidak menerima satu pun pesanan pembelian,” ujar Huang.1 Harga unit yang mencapai US$ 129.000 (sekitar Rp 2 miliar dengan kurs saat itu) dan belum terbuktinya efektivitas deep learning di skala industri menjadi faktor utama keraguan calon pembeli korporat.

Peran Elon Musk dalam Adopsi Teknologi

Di tengah stagnasi tersebut, Elon Musk menghubungi Jensen Huang untuk mengadopsi teknologi tersebut bagi OpenAI, organisasi riset yang saat itu ia pimpin bersama Sam Altman. Musk menilai bahwa kapasitas komputasi masif adalah prasyarat mutlak untuk kemajuan riset AI.

Pada Agustus 2016, Huang mengantarkan unit pertama DGX-1 secara langsung ke kantor OpenAI di San Francisco. Penyerahan perangkat ini memungkinkan tim peneliti OpenAI memangkas waktu pelatihan model AI dari hitungan minggu menjadi hari. Infrastruktur ini kemudian digunakan untuk mengembangkan model GPT (Generative Pre-trained Transformer) generasi awal, yang menjadi cikal bakal teknologi ChatGPT.1

Evolusi Perangkat Keras: Peluncuran DGX Spark

Sembilan tahun pasca penyerahan pertama, Nvidia kembali meluncurkan inovasi perangkat keras terbaru. Pada Oktober 2025, Jensen Huang menyerahkan unit DGX Spark kepada Elon Musk di fasilitas SpaceX Starbase, Texas. Pertemuan ini menandai pergeseran signifikan dalam form faktor dan efisiensi energi superkomputer.3

DGX Spark menawarkan spesifikasi yang jauh lebih efisien dibandingkan pendahulunya:

  • Efisiensi Dimensi: Berbeda dengan DGX-1 yang berbobot 60 kg, DGX Spark memiliki bobot sekitar 1,2 kg dengan dimensi ringkas yang dapat diletakkan di meja kerja.4
  • Peningkatan Kinerja: Perangkat ini diklaim memiliki kinerja komputasi per watt hingga 100 kali lebih tinggi dibanding generasi 2016.
  • Aksesibilitas Harga: Dengan harga pasar sekitar US$ 3.999 (Rp 63 juta), teknologi ini kini dapat dijangkau oleh pengembang independen dan institusi pendidikan, tidak lagi eksklusif bagi perusahaan besar.6

Implikasi bagi Infrastruktur AI di Indonesia

Perkembangan teknologi perangkat keras ini memiliki relevansi langsung dengan strategi transformasi digital di Indonesia. Ketersediaan infrastruktur komputasi yang lebih terjangkau dan ringkas mendukung inisiatif lokalisasi data dan pengembangan AI berdaulat.

Hal ini sejalan dengan kemitraan strategis antara Indosat Ooredoo Hutchison dan Nvidia yang telah menyepakati investasi senilai US$ 200 juta untuk pembangunan Pusat AI di Solo Technopark, Jawa Tengah. Fasilitas ini ditargetkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) digital nasional.8

Pakar teknologi informasi, Onno W. Purbo, menekankan bahwa fokus utama Indonesia harus melampaui sekadar pengadaan perangkat keras. Menurut Onno, tantangan terbesar adalah pengelolaan data dan pengembangan algoritma yang sesuai dengan konteks lokal. “Agar AI dapat dimanfaatkan secara optimal, kita harus membangun data training sendiri dengan pengetahuan dari Indonesia,” tegasnya. Kehadiran perangkat seperti DGX Spark memungkinkan institusi di Indonesia untuk memproses data sensitif secara lokal, mengurangi ketergantungan pada infrastruktur cloud luar negeri.

Prospek Demokratisasi Komputasi

Sejarah pengadaan DGX-1 pada 2016 menunjukkan bahwa adopsi teknologi seringkali memerlukan visi jangka panjang yang mendahului tren pasar. Transisi dari superkomputer berskala industri menjadi perangkat desktop seperti DGX Spark pada 2025 mengindikasikan tren demokratisasi akses terhadap daya komputasi tinggi.

Ke depan, fokus industri diprediksi akan bergeser dari kompetisi kepemilikan infrastruktur menjadi kompetisi pemanfaatan infrastruktur untuk solusi praktis. Bagi Indonesia, momentum ini membuka peluang untuk memperkuat ekosistem digital domestik melalui kombinasi investasi strategis dan peningkatan kompetensi teknis SDM.

Hati-hati, 8 Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Bikin Ginjal Rusak Tanpa DisadariSehatDiri

Hati-hati, 8 Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Bikin Ginjal Rusak Tanpa Disadari

Keunal AdminNovember 24, 2025
Gunung Semeru Kembali Erupsi Besar: Status ‘Awas’, Warga Mengungsi dan Pendaki Tertahan!Berita

Gunung Semeru Kembali Erupsi Besar: Status ‘Awas’, Warga Mengungsi dan Pendaki Tertahan!

Keunal AdminNovember 21, 2025
Wajah Baru Timnas di Bawah Kluivert: Sandy Walsh Comeback, Marselino Ditepikan untuk Laga Krusial Kualifikasi Piala Dunia!OlahragaBerita

Wajah Baru Timnas di Bawah Kluivert: Sandy Walsh Comeback, Marselino Ditepikan untuk Laga Krusial Kualifikasi Piala Dunia!

Keunal AdminSeptember 25, 2025