China Perketat Aturan, Chip AI Asing Dilarang di Pusat Data Negara
© AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

JAKARTA – Pemerintah China dilaporkan telah mengeluarkan arahan baru yang secara efektif melarang penggunaan chip kecerdasan buatan (AI) buatan asing di proyek-proyek pusat data (data center) yang didanai oleh negara. Kebijakan ini dipandang sebagai langkah paling signifikan Beijing sejauh ini untuk mendorong kemandirian teknologi dan mengurangi ketergantungan pada pemasok dari Amerika Serikat.

Langkah tegas ini mengancam posisi raksasa chip AS seperti Nvidia, Intel, dan AMD di salah satu pasar teknologi terbesar di dunia. Arahan ini muncul di tengah ketegangan teknologi yang terus berlangsung antara AS dan China, di mana kedua negara berlomba untuk menguasai teknologi komputasi canggih. Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa aturan baru ini bahkan telah menghentikan beberapa proyek yang sedang berjalan.

Aturan Batas 30% dan Dampak Langsung Proyek

Menurut laporan yang mengutip dua sumber industri, arahan baru dari otoritas regulator China ini sangat spesifik dan memiliki mekanisme yang jelas.

Aturan tersebut menetapkan dua skenario berbeda berdasarkan kemajuan proyek:

  1. Proyek di Bawah 30%: Proyek pusat data yang progres pembangunannya masih di bawah 30% diperintahkan untuk segera mencopot atau membatalkan rencana pembelian semua chip asing yang telah terpasang.
  2. Proyek di Atas 30%: Untuk proyek yang sudah lebih maju, nasib penggunaan chip asing akan ditinjau dan diputuskan “kasus per kasus”.

Pendekatan ini dinilai pragmatis, memungkinkan China untuk segera mengalihkan proyek-proyek baru ke teknologi domestik tanpa menyebabkan gangguan besar pada infrastruktur yang hampir selesai.

Meskipun belum jelas apakah arahan ini berlaku secara nasional atau hanya di provinsi tertentu, dampaknya sudah terasa. Satu sumber melaporkan sebuah fasilitas di provinsi barat laut yang rencananya menggunakan chip Nvidia kini telah dihentikan total akibat arahan tersebut.

Saling Balas dalam Persaingan Teknologi AS-China

Kebijakan baru Beijing ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ini adalah bagian dari siklus saling balas dalam persaingan teknologi yang kian memanas dengan Washington.

Sebelumnya, pemerintah AS telah melarang Nvidia dan perusahaan AS lainnya untuk menjual chip AI mereka yang paling canggih ke China, dengan alasan kekhawatiran chip tersebut dapat digunakan untuk tujuan militer. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini menegaskan posisi ini, “kami akan membiarkan mereka (China) berurusan dengan Nvidia, tetapi tidak untuk chip paling canggih,” ujarnya.

Sebagai respons atas larangan AS, Nvidia telah merancang chip H20, versi yang kemampuannya diturunkan agar legal dijual di pasar China. Namun, arahan terbaru dari China ini menutup celah tersebut. Laporan menyebutkan bahwa larangan baru ini juga mencakup chip H20 buatan Nvidia, yang secara efektif membuat Nvidia terjepit oleh aturan dari kedua negara.

Kerugian Miliaran Dolar Nvidia dan Peluang Emas Huawei

Bagi Nvidia, raksasa chip AI paling berharga di dunia, dampaknya sangat besar secara finansial.

Bahkan sebelum larangan terbaru dari China ini, laporan keuangan Nvidia untuk kuartal pertama tahun fiskal 2026 (berakhir 28 April) telah mencatat kerugian sebesar $4,5 miliar akibat pembatasan ekspor oleh AS. Perusahaan juga memproyeksikan kerugian tambahan hingga $8 miliar untuk kuartal kedua.

CEO Nvidia, Jensen Huang, telah mengonfirmasi besarnya pasar yang hilang. “Pasar AI senilai 50 miliar dolar AS di China kini praktis tertutup bagi kami,” ujar Huang dalam sebuah pernyataan.

Di sisi lain, kebijakan ini menjadi keuntungan besar bagi pesaing lokal, terutama Huawei Technologies. Selama ini, tantangan terbesar bagi chip AI domestik China bukanlah pada perangkat keras, melainkan pada ekosistem perangkat lunak. Pengembang AI di China sudah sangat terbiasa dengan platform CUDA milik Nvidia, membuat mereka enggan beralih.

Dengan arahan baru ini, pemerintah China secara efektif “memaksa” adopsi platform domestik seperti Ascend milik Huawei di proyek-proyeks strategis negara.

Menuju Dua Ekosistem Teknologi yang Terpisah

Langkah China ini menandakan percepatan ambisi untuk mencapai swasembada chip AI. Selain melalui arahan pusat data, China juga dilaporkan menggunakan jalur lain untuk menekan perusahaan teknologi AS.

Badan pengawas pasar China (SAMR) diketahui sedang melakukan penyelidikan antimonopoli terhadap akuisisi Nvidia atas Mellanox dan akuisisi Qualcomm atas Autotalks.

Semua langkah ini menunjukkan bahwa era rantai pasok teknologi global yang terintegrasi mungkin akan segera berakhir. Dunia kini bergerak menuju dua ekosistem teknologi yang terpisah: satu didominasi oleh AS dan satu lagi didorong oleh China. Apa dampak jangka panjang dari pemisahan ini terhadap inovasi dan harga teknologi global masih menjadi pertanyaan besar.

Berani Tidak Disukai : Memahami Filosofi Adler untuk Bebas dari Ekspektasi Orang LainDiri

Berani Tidak Disukai : Memahami Filosofi Adler untuk Bebas dari Ekspektasi Orang Lain

Keunal AdminOctober 14, 2025
Profil Zohran Mamdani, Walikota Termuda dan Muslim Pertama di New YorkBerita

Profil Zohran Mamdani, Walikota Termuda dan Muslim Pertama di New York

Keunal AdminNovember 6, 2025
Perombakan Besar-besaran di Bea Cukai: Menkeu Purbaya Resmi Ganti Pejabat di Lima Pelabuhan UtamaBerita

Perombakan Besar-besaran di Bea Cukai: Menkeu Purbaya Resmi Ganti Pejabat di Lima Pelabuhan Utama

Keunal AdminJanuary 28, 2026