The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pasar RI Bereaksi Beragam: Rupiah Menguat, IHSG Justru Terkoreksi
©WIKIMEDIA COMMONS/FEDERAL RESERVE

BOGOR – Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), resmi memangkas suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,50%–3,75% pada Rabu (10/12/2025) waktu setempat. Langkah ini menempatkan suku bunga AS pada level terendah dalam tiga tahun terakhir, menandai babak baru dalam siklus kebijakan moneter global pasca-pandemi.

Keputusan yang diambil dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) ini memberikan dampak variatif terhadap pasar keuangan Indonesia pada perdagangan Kamis (11/12/2025). Nilai tukar Rupiah berhasil memanfaatkan momentum pelemahan Dolar AS untuk ditutup menguat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berakhir di zona merah akibat aksi ambil untung (profit taking) investor.

Keputusan ‘Hawkish’ yang Diwarnai Perbedaan Pendapat

Meskipun pemangkasan suku bunga ini sejalan dengan ekspektasi pasar, rapat FOMC kali ini diwarnai dinamika internal yang cukup tajam. Tercatat tiga pejabat The Fed mengajukan keberatan (dissent), jumlah terbanyak sejak tahun 2019. Perbedaan pendapat ini mencerminkan ketidakpastian para pengambil kebijakan dalam menyeimbangkan risiko antara inflasi yang masih persisten dan pasar tenaga kerja yang mulai mendingin.

Dalam pernyataan resminya, Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan pendekatan yang lebih berhati-hati atau dikenal dengan istilah “Hawkish Cut”. Proyeksi terbaru (dot plot) menunjukkan bahwa ruang penurunan suku bunga di tahun 2026 akan sangat terbatas, dengan mayoritas anggota komite hanya memperkirakan satu kali pemangkasan tambahan di tahun depan.

“Kami berada pada posisi yang baik untuk menunggu dan melihat perkembangan ekonomi,” ujar Powell, menegaskan bahwa era suku bunga murah belum akan kembali dalam waktu dekat.

IHSG Berbalik Arah: Hijau di Pagi Hari, Merah di Sore Hari

Di pasar modal domestik, respons investor terlihat fluktuatif. IHSG sempat dibuka menguat pada sesi pagi menyentuh level 8.764, merespons euforia penurunan bunga The Fed. Namun, tren positif ini tidak bertahan hingga penutupan.

Pada akhir perdagangan sesi kedua, IHSG berbalik arah dan ditutup melemah signifikan di kisaran level 8.581 hingga 8.620 (turun sekitar 0,9% – 1,37%). Pelemahan ini dipicu oleh tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar (Big Caps), terutama di sektor perbankan dan telekomunikasi. Saham seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi pemberat utama indeks akibat aksi realisasi keuntungan oleh investor yang memanfaatkan kenaikan harga sebelumnya.

Analis pasar menilai fenomena sell on news ini wajar terjadi, mengingat IHSG telah mengalami reli penguatan dalam beberapa hari terakhir menjelang pengumuman The Fed.

Rupiah dan Emas Antam Kompak Menguat

Berbeda dengan pasar saham, nilai tukar Rupiah menunjukkan performa yang lebih stabil. Mata uang Garuda ditutup menguat tipis sebesar 0,09% ke level Rp16.665 per Dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pemangkasan suku bunga The Fed membuat Dolar AS sedikit kehilangan daya tariknya karena selisih imbal hasil (yield spread) yang menyempit. “Rupiah diuntungkan oleh pelemahan indeks Dolar AS pasca pengumuman FOMC,” ujarnya.

Sentimen positif juga merambat ke pasar komoditas emas. Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terpantau melonjak Rp15.000 menjadi Rp2.431.000 per gram pada perdagangan hari ini, mengikuti tren kenaikan harga emas dunia yang kembali dilirik sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian prospek ekonomi 2026.

Respon Bank Indonesia dan Outlook 2026

Perhatian pasar kini beralih ke Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan digelar pekan depan. Ekonom memprediksi Bank Indonesia kemungkinan besar akan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75% untuk bulan Desember ini.

Langkah hati-hati The Fed yang hanya memproyeksikan satu kali pemangkasan di 2026 memberikan sinyal bagi BI untuk tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar Rupiah dibandingkan pelonggaran moneter yang agresif. Ekonom Bank Mandiri memperkirakan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid menghadapi tantangan 2026, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dapat mencapai 5,2% didukung oleh konsumsi domestik yang terjaga.

Implikasi Kebijakan The Fed dan Outlook 2026

Keputusan The Fed memangkas suku bunga menjadi katalis penting penutup tahun 2025. Bagi masyarakat dan pelaku usaha, penurunan ini memberikan harapan akan biaya pinjaman yang lebih ringan di masa depan, meskipun kewaspadaan tetap diperlukan mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi. Fokus selanjutnya adalah mencermati bagaimana Bank Indonesia merespons dinamika ini dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas Rupiah.

Pakar Branding
Baru Tahu! Ternyata Ini Perbedaan Marketing dengan Branding! Petuah dari Pakar Branding Pak SubiaktoFinansialDiri

Baru Tahu! Ternyata Ini Perbedaan Marketing dengan Branding! Petuah dari Pakar Branding Pak Subiakto

Keunal AdminSeptember 24, 2025
Perombakan Besar-besaran di Bea Cukai: Menkeu Purbaya Resmi Ganti Pejabat di Lima Pelabuhan UtamaBerita

Perombakan Besar-besaran di Bea Cukai: Menkeu Purbaya Resmi Ganti Pejabat di Lima Pelabuhan Utama

Keunal AdminJanuary 28, 2026
Kebiasaan Refleks yang Menandakan Anda Sangat Cerdas: Bukan Sekadar IQ Tinggi!DiriPendidikan

Kebiasaan Refleks yang Menandakan Anda Sangat Cerdas: Bukan Sekadar IQ Tinggi!

Muhamad JuwandiFebruary 4, 2026