
BOGOR – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.500 per dolar AS. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di masyarakat awam mengenai penyebab merosotnya nilai mata uang nasional belakangan ini.
Kreator konten dan pengamat ekonomi, Ferry Irwandi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Masalah ini dipengaruhi oleh kombinasi dari dinamika ekonomi global, kondisi anggaran pemerintah di dalam negeri, hingga tingkat kepercayaan pasar terhadap kebijakan yang diambil negara.
Tarik Menarik Ekonomi Global
Faktor pertama yang membuat rupiah tertekan adalah kondisi ekonomi dunia dan menguatnya dolar AS secara global. Ketidakpastian situasi internasional, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah, membuat para investor mencari tempat yang dinilai paling aman untuk menyimpan uang mereka.
Di saat yang bersamaan, bank sentral Amerika Serikat masih menahan suku bunga acuan di level yang tinggi. Kondisi ini memicu investor menarik modalnya dari negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk dipindahkan ke Amerika Serikat, yang pada akhirnya membuat nilai dolar AS semakin perkasa dibandingkan mata uang lain.
Beban Subsidi dan Pengeluaran Negara
Selain tekanan dari luar, kondisi keuangan di dalam negeri juga sedang menghadapi tantangan yang memperberat langkah rupiah. Laporan keuangan negara pada kuartal pertama tahun ini menunjukkan pendapatan memang naik 10,5 persen, namun angka pengeluaran justru membengkak jauh lebih tinggi mencapai 31,4 persen.
Sebagian besar dari pengeluaran tersebut mengalir untuk membiayai operasional pemerintah pusat. Beban anggaran ini juga semakin berat akibat lonjakan biaya subsidi energi yang harus dikeluarkan negara untuk menekan inflasi dan menjaga harga barang tetap stabil. Pengeluaran yang jauh lebih besar dari pendapatan ini menciptakan defisit yang akhirnya membebani pergerakan mata uang kita.
Laju Impor dan Tingginya Kebutuhan Dolar
Aktivitas perdagangan internasional Indonesia juga turut menjadi alasan mengapa rupiah sulit menguat. Saat ini, laju pertumbuhan ekspor barang dari dalam negeri berjalan lambat dan tidak sebanding dengan tingginya pertumbuhan barang yang diimpor dari luar negeri.
Tingginya aktivitas impor ini, terutama untuk menutupi kebutuhan energi di tengah mahalnya harga minyak dunia, membuat pelaku usaha membutuhkan lebih banyak dolar AS. Permintaan dolar yang sangat tinggi di dalam negeri sebagai alat transaksi secara otomatis menekan nilai rupiah hingga terus mengalami penurunan.
Kepercayaan Pasar dan Sinergi Aturan
Faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan pemerintah. Ferry menyoroti bahwa gaya komunikasi pejabat publik yang kerap membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara maju secara tidak berimbang justru menurunkan kredibilitas di mata para pelaku pasar.
Untuk memulihkan stabilitas nilai tukar, pemerintah dituntut untuk memperbaiki pengelolaan anggaran dan melakukan komunikasi publik secara lebih jujur berdasarkan data nyata. Sinergi aturan antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan juga harus diperkuat agar pasar kembali percaya dan arus uang tidak terus keluar. Tonton selengkapnya di sini.


