
Keunal – Dunia belanja online tengah bergeser ke babak yang benar-benar baru. Selama ini, kecerdasan buatan (AI) lebih banyak berperan sebagai asisten — membantu mencari informasi, membandingkan harga, atau memberi rekomendasi produk. Namun ke depan, peran itu naik kelas: AI tidak lagi sekadar membantu, melainkan benar-benar mengambil keputusan pembelian atas nama penggunanya.
Fenomena ini disebut agentic commerce, dan perubahannya bukan sekadar wacana. Riset Accenture bertajuk “Talk to My AI Agent” menemukan bahwa 74% responden kini lebih memercayai personal AI agent mereka dibandingkan rekomendasi dari teman sendiri saat hendak berbelanja. Angka ini menandakan pergeseran besar dalam cara konsumen membangun kepercayaan — dari sesama manusia, kini bergeser ke asisten digital.
Managing Director Accenture Song, Patricio De Matteis, menyebut fase ini sebagai titik balik industri e-commerce. AI, menurutnya, tidak lagi hanya jadi alat bantu, tapi mulai bertindak sebagai perantara yang mewakili kepentingan konsumen dalam setiap proses belanja — mulai dari riset produk, membandingkan pilihan, memberi rekomendasi, hingga di beberapa kategori bahkan mengeksekusi pembelian secara langsung.
Perubahan ini muncul karena belanja online konvensional dianggap makin melelahkan. Terlalu banyak pilihan, terlalu banyak informasi yang harus disaring sebelum konsumen benar-benar yakin mengambil keputusan. Kehadiran AI agent menjadi solusi karena mampu mengambil alih beban tersebut, sehingga proses belanja terasa lebih cepat dan efisien.
Data lain yang tak kalah menarik: 57% responden bersedia “melatih” AI agent mereka agar memahami preferensi belanja pribadi. Bahkan, satu dari tiga konsumen mengaku siap pindah ke merek lain jika AI merekomendasikan pilihan yang dianggap lebih cocok dengan kebutuhan mereka. Artinya, loyalitas merek kini tidak lagi murni ditentukan oleh manusia — AI ikut menentukan arah preferensi konsumen.
Kompetisi Baru: Bukan Cuma Soal Produk Terbaik
Bagi pelaku usaha, ini adalah alarm penting. Kualitas produk dan inovasi saja tidak lagi cukup untuk memenangkan pasar. Kini, merek juga harus mampu “meyakinkan” AI agar direkomendasikan kepada konsumen.
Managing Director Peka Consult Inc., Kafi Kurnia, menekankan bahwa brand perlu memahami dengan jelas kekuatan dan positioning mereka — entah dari sisi harga, kualitas, cita rasa, atau layanan — dan yang lebih penting, memastikan kekuatan tersebut benar-benar “terbaca” oleh sistem AI.
Sebab, AI sangat bergantung pada jejak digital: makin banyak informasi kredibel tentang sebuah merek yang beredar di internet, makin besar peluang merek itu muncul dalam rekomendasi AI. Sebaliknya, brand dengan jejak digital minim akan kesulitan dikenali sistem.
Namun Kafi mengingatkan, membangun eksistensi digital ini harus dilakukan secara organik — lewat interaksi dan ulasan yang autentik. Cara-cara manipulatif seperti membeli followers atau engagement palsu justru kontraproduktif, karena AI cenderung mengutamakan sinyal kredibilitas yang nyata.
AI Berperan Besar di Awal, Loyalitas Tetap Milik Pengalaman
Menariknya, pengaruh AI diperkirakan paling kuat terjadi di tahap awal pencarian — saat konsumen masih mencoba-coba berbagai pilihan. Begitu mereka menemukan merek yang benar-benar cocok, ketergantungan pada rekomendasi AI berangsur menurun. Pada titik ini, loyalitas kembali dibangun lewat cara klasik: pengalaman yang memuaskan.
Contoh Nyata dari UMKM Lokal
Adaptasi terhadap teknologi AI sudah mulai terlihat di lapangan, termasuk di kalangan UMKM. Imago Raw Honey, produsen madu asal Bogor, menjadi salah satu contohnya. Lewat kombinasi Instagram Reels untuk bercerita soal produk, Meta Ads untuk menyasar audiens yang lebih tepat, hingga WhatsApp Business untuk mempercepat layanan pelanggan, usaha ini berhasil naik kelas — dari melayani pasar lokal menjadi pemasok hotel bintang lima sekaligus menembus pasar ekspor.
Founder Imago Raw Honey, Henry Hidayat, menyebut teknologi punya andil besar dalam perjalanan bisnisnya, terutama lewat konten edukatif seputar madu murni dan proses panen berkelanjutan yang ia bagikan secara konsisten di media sosial.
Yang Perlu Disiapkan Brand Sekarang
Era agentic commerce menuntut pelaku usaha berpikir dua langkah lebih maju: tak cukup meyakinkan manusia, merek juga harus “dipahami” oleh AI. Membangun positioning yang jelas, memperkuat jejak digital secara autentik, dan tetap menjaga kualitas pengalaman pelanggan — kombinasi inilah yang akan menentukan siapa yang bertahan di gelombang perubahan ini.


